Koko Murah, Gamis Murah, Baju Anak Muslimah
Belanja Mudah Baju Muslim Online!

Menghadapi Kaum Munafik

Posted under: Umum - Dibaca 2024 kali.

Jika dikatakan kepada mereka.''marilah kalian (tunduk) pada hukum yang telah Allah turunkan pada kaum rosul. ''niscaya kamu lihat orang - orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.Lalu bagaimanakah jika mereka (orang-0rang) yang munafik ditimpa suatu musibah akibat perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah ."Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna, " Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang didalam hati mereka. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS an-Nisa' [4]:61-63).

Tafsir ayat
Allah SWT. Berfirman: Wa idza qila lahum ta'alaw ila ma anzalal-lah wa ila ar-Rosul (jika dikatakan kepada mereka. "marilah kamu [tunduk] pada hukum yang telah Allah turunkan dan pada hukum Rasul."). Dalam konteks ayat ini, frasa ma anzalal-lah berarti hukum-hukum yang ada dalam al-Qur'an,' sedangkan ar-Rosul menunjuk pada hukum beliau.

Dhamir al-ghaib (kata ganti mereka) pada ayat ini kembali pada ayat sebelumnya. Mereka adalah orang-orang yang mengaku mengimani kitab-kitab yang telah Allah turunkan, namun mereka justru berhukum pada thaghut. Mereka itulah yang jika diajak tunduk pada hukum yang Allah turunkan dan pada hukum Rasulullah saw. maka: rayta al-munafiqina yashuddina'anka shudud[an]

Kata Munafiq merupakan ism al-fail dari kata an-nifaq. dijelaskan Ibnu Katsir, an-nifaq berarti menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Secara i'tiqadi, sebutan munafik disematkan kepada orang kafir yang menyembunyikan kekufurannya dan menampakkan dirisebagai orang Mukmin (Lihat:QS al-Munafiqun [63]:1; al-Baqarah [2]: 8-10; dan an-Nur [24]: 47-50).

Kata ash-shadd, sebagaimana diungkap Ibnu Manzhur, berarti al-iradh wa ash-shuduf (berpaling). Makna itu pula yang diambil oleh kebanyakan mufassir ketika menafsirkan kata yashudduna dan suhud[an] dalam ayat ini. Ibnu Katsir memaknainya:yu'ridhuna'anka i'radh[an] ka al-mustakbirina 'an dzalika (Mereka benar-benar berpaling dari kamu seperti orang yang sombong terhadap hal itu). Masih menurut Ibnu Katsir, sikap tersebut sama dengan kaum musyrik ketika diajak pada apa yang telah Allah turunkan. Mereka menolak ajakan tersebut hanya karena alasan telah mengikuti ajaran nenek moyang mereka (lihat QS Luqman [31]:21). Sikap tersebut tentu kontradiksi dengan

sikap Mukmin yang sami'na wa atha'na terhadap hukum Allah Swt. (lihat Qs an-Nur [24]:51).

Di samping makna tersebut, kata ash-shadd juga berarti sharf[an] wa man'a[an] (memalingkan dan menghalangi). Menurut ar-Raghib al-Asfahani, pengertian  tersebut cukup banyak dalam al-Quran seperti dalam Qs an-Naml[27]:24,al-Ankabut[29]:38, Muhammad [47]: 1 dan lain-lain. oleh karna itu, tidak aneh jika ada mufassir yang menggabungkan dua pengertian itu sehingga ayat itu dimaknai, "Mereka berpaling dari engkau dan memalingkan orang lain seperti itu."

Kata shudud[an] dalam ayat ini berfungsi lial-ta'kid wa al-mubalaghah (untuk menguatkan dan menegaskan). Mereka benar-benar berpaling dari syariah secara total. Al-Biqa'i bahkan memaknainya sebagai a'la thabaqat ash-shudud (tingkat penolakan yang paling tinggi).

Allah Swt. berfirman: fakayfa idza ashabathum mushibah bima qaddamat aydihim (Lalu bagaimanakah jika mereka [orang-orang munafik] ditimpa suatu musibah akibat perbuatan tangan mereka sendiri). Dalam menafsirkan kata mushibah, meskipun dengan ungkapan berbeda, penafsiran para mufassir merujuk pada pengertian senada. Ibnu Jarir ath-Thabari memaknainya dengan niqmah minallah (balasan berupa siksaan dar5i Allah). Syihabuddin al-Alusi menafsirkannya nakbah (bencana atau malapetaka). Ada juga yang mengartikan 'uqubah (hukuman) dan itu akibat ulah mereka.Penolakan mereka terhadap syariah, tindakan mereka yang berhukum kepada thaghut dan kemunafikan mereka merupakan sebab datangnya musibah itu.

Allah Swt. berfirman: tsumma jauka yahlifuna bil-lah (kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah,"Demi Allah..."). Mereka datang kepada Rasulullah saw. bukan untuk bertobat. Sebaliknya, mereka justru mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka bahkan berani bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan alasannya. Alasan mereka disitir Allah Swt.: in aradna illa ihsan[an] wa tawfiq[an] ("Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik perdamaian yang sempurna"). Dengan lancang,mereka mengaku bahwa tindakan mereka yang menolak syariah dan menginginkan berhukum pada thaghud itu didasarkan pada niat baik: ihsan[an] wa tawfiq[an]. Mereka ingin berbuat baik dan berupaya mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Ungkapan nafi (penegasian.berupa huruf in) yang diiringi dengan istitsna (pengecualian, berupa huruf illa) memberikan pengertian li al-hasyr (pembatasan). Artinya,hanya karena alasan itulah mereka berpaling dari hukum Allah Swt.

Alasan tersebut jelas dusta dan mengada-ada. Sebab,tidak ada hukum yang lebih baik daripada hukum Allah (lihat Qs al-Maidah[5]:50). Mengembalikan perkara yang diperselisihkan pada al-Quran dan as-Sunnah juga merupakan khayru waahsanu ta'wil[an] (lebih utama dan lebih baik akibatnya) (lihat Qs al-Nisa' [4]:59). oleh karena itu, jika mereka menginginkan kebaikan dan perdamaian, seharusnya dikembalikan semuanya pada keputusan syariah, bukan malah berpaling darinya.

Sumpah mereka juga tidak berguna. Sebab: Ulaika ya lamul-lah ma fi qulubihim (mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka). Jatidiri mereka yang sebenarnya adalah lebih condong kepada thaghut, menolak syariah dan mengingkari kebenaran islam. Sekalipun mereka berupaya kuat untuk menyembunyikannya, upaya itu sia-sia belaka. Allah yang Mahatahu mengetahui semua perkara yang tersimpan dalam dada manusia (lihat QS al-Maidah [5]; 7, al-Anfal [8]:43). Oleh karena itu , Allah SWT. tidak bisa ditipu. Siapapun yang menipu-Nya, sesungguhnya dia hanya menipu dirinya sendiri (lihat QS al-Baqarah [2]:9).

Menurut az-Zamakhsyari, Abu Hayyan al-Andalusi dan al-Alusi, ini merupakan ancaman terhadap mereka atas perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka akan menyesali perbuatan yang mereka kerjakan. Mereka akan menyesali perbutan mereka tatkala penyesalan itu tidak lagi bermanfaat. Alasan mereka juga tidak berguna ketika sudah tertimpa azab Allah.

Terhadap mereka, Rasulullah SAW dan kaum Mukmin diperintahkan: fa a'ridh 'anhum (karena itu, berpalinglah kamu dari mereka). Berpalinglah dari mereka adalah dengan tidak menerima semua alasan mereka; tidak pula menjatuhkan sanksi kepada mereka. Selain itu juga: wa'izhhum (dan berilah mereka pelajaran. Artinya, berikanlah penjelasan kepada mereka mengenai hukum Allah Swt.,disertai dengan at-targhib dalam ketaatan kepada Allah, dan tarhib bagi orang yang meninggalkannya.

Diperintahkan pula: wa qul lahum fi anfusihim qawl[an] baligh[an](dan katakanlah kepada mer5eka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka). Ungkapan qawl[an] baligh[an] menurut al-Alusi adalah perkataan yang membekas dan sampai pada hakikat yang dimaksud. Melarang mereka berbuat nifaq,makar,tipudaya, dengki dan dusta; dan menakut-nakuti mereka dengan akhirat, sebagaimana diperintahkan dalam QS an-Nahl [16]:125.

Munafik: Karakter dan Akibatnya
Setidaknya, ada tiga perkara penting yang dapat dipetik dari ayat ini. Pertama: sifat kaum munafiq. Diantara sifat khas kaum munafiq adalah penolakan mereka yang amat keras terhadap seruan pada syariah. Kendati mengaku mengimani seluruh kitab yang diturunkan, mereka lebih senang dan ridha berhukum pada taghut (lihat juga: QSan-Nur [24]:48).
Suatu ketika mereka memang terlihat tunduk kepada keputusan syariah. Akan tetapi, kepatuhan itu didasarkan pada kemaslahatan semata. Jika keputusan syariah sejalan dengan kemaslahatan mereka, mereka baru mau patuh (lihat QS an-Nur [24]:49). Pembangkangan dan kesombongan mereka terhadap seruan dakwah juga digambarkan dalam QS al-munafiqun [63]:5. Ketika mereka diminta untuk beriman, agar Rosulullah SAw. Memintakan ampun  bagi mereka, mereka membuang muka mereka dan berpaling dengan menyombongkan diri.
Penolakan mereka terhadap syariah tentu menimbulkan tanda tanya besar atas pengakuan keimanan mereka. Lazimnya, keyakinan terhadap apa pun akan memberikan pengaruh pada perbuatan. Keyakinan pada al-Quran beserta seluruh hukum yang terkandung didalamnya akan mengantarkan pelakunya untuk taat terhadap seluruh ketentuan hukum di dalamnya.
Sifat lainnya adalah keberanian mereka dalam berdusta. Banyak kedustaan yang mereka ucapkan. Bahkan pengakuan keimanan mereka pun sesungguhnya adalah dusta. Tak ayal, mereka disebut sebagai pendusta (Lihat QS al-Munafiqun [63]:1).

Dalam berdusta, mereka tak segan bersumpah atas nama Allah Swt. Selain dalam ayat ini, sumpah palsu mereka juga diceritakan dalam surat at-Taubah [9]:107. Ketika ada di antara mereka yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadaratan, kekafiran dan memecah-belah kaum Mukmin, mereka bersumpah,"Kami tidak menghendaki selain kebaikan". Mereka tyelah menjadikan sumpah mereka menjadi perisai dan alat untuk menghalangi manusia dari jalan Allah Swt(Qs al-Munafiqun [63]: 2).
Kedua: akibat kemunafikan dan penolakan terhadap syariah. Ayat ini memberitakan tentang musibah yang akan menimpa mereka. Ditegaskan, musibah-yang ditafsirkan oleh para mufassir sebagai hukuman atau bencana-itu adalah akibat ulah mereka sendiri. Penolakan mereka terhadap syariah dan keinginan mereka berhukum kepada thaghut menjadi penyebab datangnya musibah (Lihat juga: QS al-Maidah [5]: 49).
Di samping di dunia, hukuman jauh lebih besar akan mereka terima kelak di akhirat. Layaknya kaum kafir, orang munafik i'tiqadi itu juga akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya. Tempatnya pun berada di neraka paling bawah (lihat QS an-Nisa' [4]: 145).
Ketiga: sikap umat islam dalam menghadapi kaum munafik,. Umat islam harus tsiqah terhadap islam dan berpaling dari mereka. Berbagai alasan dan dalih yang mereka kemukakan untuk menolak syariah tidak boleh diterima dan dibenarkan. Sebagaimana diperintahkan dalam QS al-Ahzab [33]:1, umat islam harus terus bertakwa kepada Allah Swt. dan tidak mengikuti kaum munafik; juga tidak menghiraukan gangguan mereka serta harus bertawakkal kepada Allah Swt (lihat QS alAhzab [33]: 48).
Mereka juga diberi nasehat yang membekas dan menggugah kesadaran mereka. Mereka dijelaskan kesesatan akidah mereka beserta bukti-buktinya, kebatilan anggapan mereka, dan kerusakan sikap mereka. Mereka diingatkan dahsyatnya azab Allah Swt yang bakal mereka terima di akhirat kelak jika tetap bertahan dengan sikapnya. Mereka juga didorong agar segera sadar dan bertaubat. Selagi maut belum menjemput, pintu taubat masih terbuka buat mereka. Jika mereka mau bertaubat, mengadakan perbaikan, berpegang teguh pada agama Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama-Nya, mereka akan mendapatkan ampunan dan pahala amat besar (lihat QS an-Nisa' [4]: 145-146)
Di samping siksa di akhirat, kaum munafik itu harus diingatkan dengan hukuman di dunia. Jika telah terbukti kemunafikannya, mereka akan dihadapi dengan tegas. Allah Swt berfirman:........... Artinya: Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka (Qs at-Taubah [9]: 73).
Demikianlah sifat-sifat kaum munafik dan akibat yang akan mereka terima serta sikap yang harus diambil kaum Muslim dan menghadapi mereka.
Wallah a'lam bi ash-shawab.

Ingin temanmu tahu tentang artikel ini? Tolong dibagikan ya..

Obral promo busana muslim



Artikel lain di Umum:
4 Cara Menerapkan Alquran Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Self Reflection Berkaca Pada Diri Sendiri
Beberapa Kesalahan Ketika Adzan Dan Tahlilan
Tips Sukses ber One Day One Juz Al Quran
Hidayah Mencintai Masjid
Surga Neraka Memang Kekal
Salah Satu Keunikan Bali
Semarak Maulid Nabi Muhammad di Denpasar
Istighotsah di Kampung Islam Denpasar
Dahulukan yang Paling Penting dari Yang Penting

Kategori Lain:
Bisnis
Haji
Keluarga
Puasa
Shalat


BELANJA BERDASAR MEREK
ETHICA NIBRAS
UKHTI MUNIRA
FOLIA ACTUAL BASIC
   
BELANJA BERDASAR MODEL
GAMIS SARIMBIT
ATASAN / BLUS HIJAB SYAR'I
   
BELANJA BAJU KOKO DEWASA & ANAK
QOD DEWASA FATIH FIRA ANAK
NIBRAS DEWASA ETHICA ANAK

Home
Update Terbaru via Facebook
eXTReMe Tracker