Hutang, adalah hal yang dibenci sekaligus dirindu. Dibenci karena itu adalah simbol kekalahan. Dirindu karena mungkin bisa digunakan untuk berbalik menang dari kekalahan itu. Dalam posisi kepepet dan sebagai solusi terakhir, hutang sah-sah saja. Namun hendaknya, itu tidak dijadikan kebiasaan. Apalagi tiap bulan selalu berhutang. Entah ke teman, tetangga atau saudara.

doa-terhindar-dari-hutangSeolah-olah jalan keluarnya hanya berhutang.

Anda tahu, yang jelas, kegiatan berhutang ini (selama prosesnya masih berjalan dan belum dilunasi), akan membawa sebab seperti berikut:

1. Bagi Yang Berhutang
Karena merasa masih punya hutang dan super sungkan, dari janji 1 bulan akan mengembalikan ternyata sudah 3 bulan belum juga terlunasi, jadinya main kucing-kucingan. Biasa ketemuan tiap hari (di kantor, rumah atau tempat ibadah, misalnya), sekarang hanya seminggu sekali. Itupun sekedar ber hai-hai singkat. Tak enak. Tak hangat. Tak gayeng. Seolah ada sekat. Dan solusi terbaik: menghindar.

2. Bagi Yang Memberi Hutang
Jadi serba salah. Mau silaturahiim kerumahnya, dikira nagih hutang. Padahal niatnya memang main doang. Menyapa di jalan, dikira juga nagih. Mau ngajak hang out, tahu memang dia lagi bokek. Lantas bagaimana enaknya? Bingung. Dan solusi terbaik: sama, menghindar.

Tak jarang, hingga sudah masuk hitungan tahun pun, hutang itu masih tak terbayar. Masing-masing pihak merasa saling sungkan untuk bertemu. Entah kapan terbayar, dan bisa bertemu kembali. Si penghutang malah menganggap adanya ‘pemutihan’ dari si pemberi hutang, mungkin merasa tak pernah ditagih.

Kata-kata bijak (meskipun saya jelas bukan orang bijak) yang ingin saya sampaikan disini adalah: hati-hati berhutang kepada teman. Karena, apabila ternyata sulit untuk mengembalikan, Anda tidak saja terancam kehilangan uang, tetapi juga teman!

Baca Juga: Membedakan Hutang Untuk Pribadi dan Hutang Untuk Keperluan Bisnis

Itu musibah besar, terutama kehilangan teman (putus silaturahiim).

So, jangan gampangan berhutang ya. Dan lagipula, yang dimintai hutang juga belum tentu selalu punya uang.

SOLUSI MENYELESAIKAN HUTANG DARI USAHA INTERNAL

– Jual aset
– Jual perabotan
– Menurunkan gaya hidup / lebih berhemat
– Kreatif mencari penghasilan tambahan
– Berdoa terhindar dari hutang (gugling aja)

HUTANG BAIK vs HUTANG BURUK

Hutang baik adalah ketika uangnya cair, lalu diinvestasikan, dibisniskan, dileveragekan, atau dibelikan tiket seminar. Bisa juga direkreasikan ke tempat wisata atau tempat baru yang belum pernah dikunjungi, dengan maksud shopping idea, belanja ide siapa tahu ada ‘sesuatu’ disana yang bisa kita kembangkan di tempat kita ketika rekreasi usai.

Hutang baik disebut juga hutang produktif.

Barikut ini adalah sumber hutang yang aman, karena biasanya mudah dan tak berbelit. Contohnya berhutang ke orang tua, mertua, saudara dekat, teman karib (sahabat), dsb.

Kalau gagal bayar, orang tua biasanya cukup berujar ‘sing sabar yo lee..’, mertua berkata ‘gak popo nak..’ dan moga2 tidak meminta anaknya dikembalikan hehe…, saudara dekat membatin ‘koyoke lagi gak duwe duwek…’ dan sahabat nelpon tapi segera di miskol karena sungkan

Walaupun mudah, berhutang ke pihak ketiga semacam ini, kalau gagal bayar bisa terancam putus hubungan kekeluargaan (kalau dia keluarga) dan hubungan pertemanan (kalau dia teman).

Hutang buruk adalah ketika uangnya cair, lalu digunakan untuk membayar hutang lainnya, dibelikan henpon, kulkas 10 pintu, mobil, dugem tiap malam gak jelas dengan teman2. Bisa juga dijudikan dengan maksud agar kaya mendadak. Tak jarang diikutkan ke sebuah investasi abal-abal dengan mantra; “setor uangmu, diam saja dirumah, tiap bulan terimalah passive income!”. Tapi, mana ada yang terlalu mudah seperti itu..

Hutang buruk disebut juga hutang konsumtif.

Berikut ini adalah sumber hutang yang berbahaya, karena seringnya nyerempet riba yang melenyapkan berkah, dan umumnya sulit disertai banyak konsekuensi. Contohnya adalah bank, leasing, finance, pegadaian, koperasi, dsb.

Kalau gagal bayar, debt collectornya akan membuat si gagal bayar tak tenang dari pagi hingga malam. Diteror sedemikian rupa, dipermalukan di depan orang sekampung, dan disita semua aset dan jaminannya. Beberapa kasus bisa menyebabkan perceraian (na’udzubillah…).

Ini adalah model hutang yg paling ngenest: sudah sulit, ancamannya jga luar biasa.

Akhir bahasan, berikut adalah do’a agar kita terhindar dari hutang:

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”

[Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu].

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari hutang yang belum terbayar, dan dari putusnya Silaturahiim.

Aamiin.

Arif Haliman

Facebook: https://www.facebook.com/arif.haliman

obral-baju-muslim