Koko Murah, Gamis Murah, Baju Anak Muslimah
Belanja Mudah Baju Muslim Online!

Home > Shalat > Shalat Berjamaah - Dibaca 2180 x.

Shalat Berjamaah

Bagikan


Dalam hal shalat berjama'ah,Rasulullah Saw pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin Umar ra., "Shalat berjamaah itu lebih baik dua puluh tujuh kali dibandingkan dengan sholat sendirian."(HR al-Bukhari, Muslim at-Thirmidzi dan an-Nasa'i).

Jamaah shalat Subuh di masjid

Mengapa Harus Shalat Berjamaah?

Rasul Saw juga pernah bersabda, "....Tiadalah seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu ia pergi ke salah satu masjid (untuk shalat berjamaah), melainkan bagi setiap ayunan langkahnya Allah Swt. mencatat satu kebaikan. mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu keburukan... Sungguh tidak ada orang pun yang menunda-nunda shalat (dengan shalat di rumah) kecuali orang-orang yang benar-benar munafik..."(HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa'i, dan ibn Majah.

Dalam hadist lain, Rasulullah Saw juga bersabda, 'Seseorang yang senantiasa melakukan sholat berjamaah di masjid selama empat puluh hari tampa tertinggal takbir yang pertama (bersama imam) akan mendapatkan dua jaminan: diselamatkan dari azab neraka dan dibebaskan dari sifat-sifat munafik." (HR at-Tirmidzi).

Banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan shalat berjamaah di masjid bagi orang Muslim. Namun demikian, tiga hadist ini saja cukup untuk menggambarkan betapa istimewanya shalat berjamaah di masjid.

Tidak aneh jika Rasulullah Saw sendiri, juga para Sahabat dan generasi shalafush-shalih senantiasa sungguh-sungguh menjaga shalat berjamaah, persis sebagaimana mereka menjaga ibadah-ibadah sunnah yang lain seperti membaca al-Qur'an, shaum sunnah, bersedekah dll.

Baginda Rasul Saw misalnya, tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Bahkan ketika hampir wafat, dan sebelumnya beberapa kali pingsan, beliau tetap berupaya pergi ke masjid. Itu pun setelah beliau beberapa kali mencoba mengambil air wudhu dan gagal. Saat beliau berhasil berwudhu, beliau segera memaksakan diri pergi ke masjid. Dengan dipapah oleh Abbas ra. dan salah seorang sahabat yang lain.

Saat itu beliau sudah tidak kuat berdiri tegak untuk shalat. Atas permintaan beliau. Abu Bakar ra. kemudian menjadi imamnya (HR al-Bukhori dan Muslim).

Pembaca yang budiman, seorang muslim, apalagi pengemban dakwah, sudah seharusnya sangat tertarik dengan keistimewaan dan keutamaan shalat berjamaah ini.

Bahkan seandainya kita selalu mengejar pahala dalam beribadah, tentu ibadah shalat berjamaah tidak mungkin kita tinggalkan, kecuali jika ada unzur.

Mengapa? Sebab, sering demi keuntungan duniawi saja, kita begitu sungguh-sungguh meraihnya, maka begitu pula seharusnya saat kita mendambakan 'keuntungan' di akhirat berupa pahala dan dijauhkannya kita dari azab neraka.

Bahkan kesungguhan dalam meraih keuntungan akhirat seharusnya lebih besar lagi. Sebabnya, keuntungan. akhirat adalah abadi dan tak ternilai, sementara keuntungan duniawi, betapapun besarnya, pasti terukur dan tidak kekal. Itulah yang dipahami oleh Rasulullah Saw, para Sahabat dan generasi shalafush-shalih setelah mereka.

Ada sebuah kisah yang menakjubkan, selain kisah Rasul Saw yang mengharukan di atas.

Seorang ulama salih terkenal, Muhammad bin Samma'ah, salah seorang murid Imam Abu Yusuf, adalah di antara generasi salaf yang begitu menjaga shalat berjamaah.

Bahkan dalam usia yang amat lanjut menjelang wafatnya (beliau wafat dalam usia 103 Tahun), beliau masih sanggup menunaikan shalat sunnah puluhan rakaat setiap hari. Beliau pernah berkata, "Selama 40 Tahun saya tidak pernah ketinggalan takbir yang pertama bersama Imam dalam shalat berjamaah. Hanya sekali saya ketinggalan mengikuti takbir yang pertama,'yaitu saat ibu saya wafat, karena saya sibuk mengurus jenazah beliau." (Al-Kandahlawi,Fadha'li al-A'mal, hlm:47).

Beliau adalah salah satu generasi salaf yang begitu memahami, bahwa ketika seseorang ketinggalan shalat berjamaah, hingga terpaksa harus shalat sendirian, maka keutamaan shalat berjamaah tak akan pernah bisa tergantikan meski dengan menggulangi shalat sendirian itu sebanya 27 kali. Pasalnya, didalam shalat berjamaah, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, para malaikat ikut meng-'aamiin'-kan setiap kali surah al-Fatihah selesai dibaca, juga saat doa dipanjatkan setelah usai shalat.

Doa para Malaikat tentu akan dikabulkan oleh Allah Swt. Salah satunya, adalah diampuninya dosa-dosa yang telah lalu. Itulah di antara keberkahan yang hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang senantiasa menunaikan shalat berjamaah.

Shalat berjamaah memang sunnah, namun termasuk sunnah yang sangat utama (muakkadah). karena itu, meski sunnah, Nabi Saw sangat keras menganjurkannya, sekaligus mencela mereka yang tidak mau menunaikannya.

Rasulullah Saw, misalnya, bersabda, "Siapa saja yang mendengar seruan azan (di masjid), tetapi tidak memenuhinya tanpa suatu uzur pun, maka shalat yang dikerjakannya (di rumah) tidak akan di terima." Para sahabat bertanya, "Apa uzurnya?" jawab beliau, "Ketakutan dan sakit." (HR Abu Dawud dan Ibn Hibban).

Nabi Saw juga bersabda, "Kebatilan di atas kebatilan, kekufuran di atas kekufuran, yaitu orang yang mendengar panggilan muazin untuk mendirikan shalat, namun ia tidak memenuhinya."(HR Ahmad dan Ath-Thabrani).

Nabi Saw pun, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra., bahkan pernah bersabda, "Sungguh saya ingin memerintahkan para pemuda untuk mengumpulkan kayu bakar yang banyak, kemudian akan saya datangi orang-orang yang shalat di rumahnya tanpa uzur, dan akan saya bakar rumah-rumah mereka." (HR Muslim,Abu Dawud,Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

Dengan beberapa hadis yang bernada 'keras' di atas, wajarlah jika sebagian Sahabat dan generasi salaf memandang shalat berjamaah di masjid wajib bagi mereka yang kebetulan tinggal di rumahnya, dan meninggalkannya adalah haram. Imam Hanafi, misalnya, berpendapat bahwa orang yang shalat sendirian di rumah, dan tidak berjamaah di masjid, maka meski shalatnya sah, ia tetap berdosa.

Walhasil, marilah kita senantiasa berusaha sungguh-sungguh menunaikan shalat berjamaah, di tengah kesibukan dan kelelahan kita menunaikan setiap amanah dan tugas dakwah.

Khusyuk Dalam Shalat

Lantas, bagaimana agar shalat kita bisa bernilai khusyuk?

Mencapai khusyuk dalam shalat adalah dambaan setiap mukmin didalam menunaikan shalatnya. Apakah itu shalat wajib atau shalat sunat, kekhusyukan adalah sebuah keharusan agar ibadah shalat kita diterima Allah Swt.

Oleh karena itu didalam shalat hendaknya memperhatikan dua bentuk khusyuk shalat sebagai berikut:

1. Khusyuk Hati

Seluruh perhatian si pelaksana shalat tertuju pada shalat, dan semua pikiran dan angan-angan adalah shalat. Tak ada sesuatu yang terlintas dihatinya selain Zat Yang Patut Disembah.

2. Khusyuk Anggota Tubuh

Berdiri tepat menghadap kiblat dan dengan tenang menempelkan kedua tangannya ke paha sejajar dengan lutut. Merentangkan kedua kaki sejarak tiga jari hingga satu jengkal, jari jemari kaki menghadap kiblat, mata memandang kearah tempat sujud dan tidak memandang sesuatu yang lain. Tidak bermain-main dengan janggut, jari-jemari dan sebagainya. Dan kehadiran hati adalah menjauhkan hati dari berbagai pekerjaan yang tak berhubungan dengan shalat. Sehingga dia tahu apa yang telah dilakukannya dan apa yang sedang diucapkannya. Pikirannnya tidak melayang-layang ketempat lain dan perhatiannya hanya tertuju pada shalat.

Inilah dua bentuk khusyuk yang diharapkan selalu ada dalam setiap shalat hamba.

Semoga Allah Swt memudahkan kita semua untuk selalu mudah dalam mendirikan shalat berjama'ah dan memperoleh khusyuk dalam shalatnya. Aamiin.

Subuh dan Ashar Adalah Shalat Yang Tersulit

Kalau disebut kata Subuh, cepat terlintas dibenak orang adalah tentang shalat. Itu benar. Waktu Subuh memang identik dengan shalat Subuh. Selain itu juga cepat terlintas dipikiran tentang betapa susahnya menjalankan shalat yang satu ini.

Susahnya yaitu sulit bangun dari tidur, untuk kemudian mendirikan shalat Subuh.

Setuju? Setuju saja sama Saya, terlihat kok dari kuku jempol kaki Anda hehe...

Agar Anda lebih manggut-manggut lagi tentang susahnya mendirikan shalat Subuh, silakan simak daftar alasan gak subuhan berikut ini:

  • Enakan tidur karena masih ngantuk
  • Enakan tarik selimut lagi karena tadi malam ada begadang
  • Diluar masih sepi
  • Tanggung bangun sekalian aja bareng matahari terbit
  • Alarm henpon gak bunyi (padahal memang gak dibunyiin)
  • Ayam piaraan gak berkokok (bohong, punyanya kucing bukan ayam)

Tetapi tahukah Anda bahwa sebetulnya, ada lawan sepadan sebelas duabelas dengan Subuh, yang juga maha berat didirikan?

Apa itu? Ashar.

Ya, waktu shalat Ashar juga tak kalah susahnya untuk mendirikan shalat, terutama melakukannya secara BERJAMAAH dan TEPAT WAKTU di masjid, bagi laki-laki.

Apa pasal? Berdasar pengalaman, terutama karena keenakan tidur siangnya, jadinya enggan untuk bangun dan berangkat ke masjid untuk shalat Ashar.

Anda tahu, kemudahan mendapatkan tidur siang adalah salah satu kemewahan yg dimiliki seorang pengusaha rumahan. Soalnya kerjanya banyak dilakukan dirumah.

Apalagi setelah makan siang, oh..tak ada kenikmatan di dunia ini melebihi nikmatnya BOBOK SIANG :)

Nah, itu bagi orang yang kerjanya dirumah. Bagaimana dengan pegawai kantoran?

Ini daftar alasan gak asharan nya, selain keenakan tidur siang:

  • Tanggung habis rehat ishoma (istirahat sholat makan siang), masak rehat (shalat ashar) lagi?
  • Tanggung bentar lagi pulang kantor, shalat ntar aja dirumah
  • Badan capek-capeknya
  • Kena macet pas pulang kantor
  • Enggan meninggalkan ruangan kantor yang ber AC untuk shalat dibagian lain kantor

Padahal, Allah Swt memberikan tempat khusus dalam Al Quran, dengan menyebutnya sebagai shalat Wustha; keharusan memelihara serta menjaganya.

Intinya, orang menggampangkan shalat Ashar dan Subuh adalah karena ini:

Tak paham faedah shalat Subuh (salah satunya, hilang keberkahan hari itu. Tak paham faedah shalat Ashar (salah satunya, hilang amalan hari itu). Tak ikhlas dengan perintah Allah Swt

Karena sudah tak ikhlas, hilanglah berkah. Yang berujung melayangnya hidayah; makin jauh dari agama.

Membuat pelakunya terus ngeyel walaupun ayat-ayat Allah Swt sudah jelas terang-benderang, seterang jam 12 siang.

Gimana menurut Anda, mana yg lebih susah dijalankan?

Ashar atau Subuh?

Mengenal 3 Macam Sujud

Sujud adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibadah wajib shalat. Dengan bersujud kita menyerahkan secara total kepasrahan kita hanya kepada Allah SWT. Dalam Islam, sujud dibagi menjadi 3 macam. Kontek dan pelaksanannya berbeda-beda bergantung keadaan. Berikut adalah penjelasannya.

A) SUJUD SAHWI

Sahwi artinya lupa. Sesuai dengan namanya, sujud ini dilakukan apabila kita lupa atau keliru didalam menghitung jumlah rekaat shalat (wajib atau sunah) yang telah kita lakukan. Berikut adalah sejumlah sebab yang mengharuskan kita melakukan sujud Sahwi.

1) Kelebihan Rakaat

Misalnya, shalat Maghrib. Shalat Maghrib adalah 3 rakaat. Namun ternyata kita mengakhiri salam di rakaat ke 4. Sadar kira salah dan baru menyadarinya, atau juga bisa makmum yang baru saja memberitahu kita, maka lakukanlah sujud Sahwi. Sujud ini dilakukan sebanyak 2 kali. Perlu untuk diketahui, shalat Maghrib kita yang berrakaat 4 tetaplah sha, tidak perlu mengulanginya lagi.

2) Kekurangan Rekaat.

Sama seperti poin 1, hanya kali ini shalat Maghrib hanya kita lakukan sebanyak 2 rakaat dari yang seharusnya 3 rakaat. Hanya kekurangan 1 rakaat harus kita bayar, dengan segera berdiri dan shalat 1 rakaat lagi. Kemudian lakukan sujud Sahwi 2 kali sujud.

3) Lupa Tasyahud

Misalnya pada shalat Zuhur. Sewaktu dapat 2 rakaat, langsung berdiri dan lupa melakukan tasyahud. tasyahud adalah duduk untuk membaca tahiyat, ini dilakukan setelah sujud dan sebelum berdiri untuk melakukan rakaat ketiga. Maka lakukanlah sujud Sahwi yang dilakukan sebelum salam. Bagaimana kalau ktia baru menyadarinya sesudah salam? Tetap tdak mengapa untuk melakukan sujud Sahwi setelah salam.

4) Ragu Dalam Jumlah Rakaat

Misalnya dalam shalat Zuhur. Kita ragu apakah sudah dapat 2 atau 3 rakaat? Dalam kebimbangan seperti itu, mantapkan hati untuk mengambil hitungan terkecil, yaitu 2 rakaat, dan lanjutkan 2 rakaat sisanya.

B) Sujud Tilawah

Sujud Tilawah kita lakukan apabila mendengar ayat-ayat Sajdah. Apakah ayat-ayat sajdah itu? Adalah ayat-ayat yang mengandung kata 'sujud ' didalamnya. Sujud Tilawah bisa kita lakukan didalam shalat (ketika sedang shalat) ataukah diluar shalat (sedang beraktivitas biasa selain shalat).

Cara sujud Tilawah sama seperti sujdu dalam shalat wajib. Setelah bertakbir sambil bersujud kemudian membaca doa.

"Sajada wajhii lilladzii khalaqahu wasyaqqa sam'ahu wabasharahu bihaulihi waquuwatihi".

Adapun yang termasuk ayat-ayat sajdah bisa dilihat disini.

C) Sujud Syukur

Sujud Syukur dilakukan apabila kita mendapatlan kebahagiaan, baik itu lahir maupun batin. Sujud Syukur hukumnya Sunah, artinya berpahala apabila dilakukan, tidak berdosa apabila ditinggalkan. Untuk mengetahui bermacam hukum dalam Islam, silakan klik disini.

Semoga kita senantiasa ingat untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Aamiin.

Ingin temanmu tahu tentang artikel ini? Tolong dibagikan ya..


Kategori Lain:
Bisnis
Haji
Keluarga
Puasa
Umum


BELANJA BERDASAR MEREK
ETHICA NIBRAS
UKHTI MUNIRA
FOLIA ACTUAL BASIC
   
BELANJA BERDASAR MODEL
GAMIS SARIMBIT
ATASAN / BLUS HIJAB SYAR'I
   
BELANJA BAJU KOKO DEWASA & ANAK
QOD DEWASA FATIH FIRA ANAK
NIBRAS DEWASA ETHICA ANAK

Home | Blog | Hot: Doa Terhindar Dari Hutang

eXTReMe Tracker