Koko Murah, Gamis Murah, Baju Anak Muslimah
Belanja Mudah Baju Muslim Online!

Home > Bisnis > Berbisnis Busana Muslim - Dibaca 2199 x.

Berbisnis Busana Muslim

Bagikan


Bisnis busana muslim di Indonesia alhamdulillah semakin semarak. Masyarakat Indonesia, tidak terkecuali kaum muslim, dewasa ini semakin religius. Dari sekian banyak indikasi yang ada, salah satunya adanya semakin maraknya kaum muslimin dan muslimin untuk selalu mengenakan busana muslim, baik dalam hidup keseharian atau untuk acara formal / tertentu. Tak pelak tentu ini membawa konsekuensi semakin maraknya busana muslim di Indonesia dan tentu saja berbisnis busana muslim menjadi sesuatu yang sangat relevan.

Cara Berbisnis Busana Muslim dan Menjadi Usahawan Handal

Tidak hanya di pedesaan, di perkotaan pun kegairahan seperti ini sangat jamak terlihat. Hal seperti ini juga tidak memandang status sosial: Baik kaya maupun miskin mereka tetap bersemangat untuk mengenakan busana muslim, tentunya lengkap dengan kerudung atau jilbab yang menutupi bagian kepala, kecuali muka. Busana yang mereka kenakan semakin variatif dan menarik, namun dengan tidak meninggalkan prinsip syar'i, yaitu longgar (tidak ketat) dan tidak tembus pandang.

Bagi seorang muslim yang kreatif, tentunya kita melihat adanya peluang disini. Yaitu, peluang untuk berbisnis busana muslim. Kita bisa menjadi penjual - baik grosir maupun eceran - berbagai macam baju muslim yang ada. Atau bahkan kita bisa menjadi produsen busana muslim. Pendeknya, dari semakin tingginya kesadaran para muslimah untuk senantiasa tampil syar'i, terbuka peluang untuk melakukan bisnis yang berkaitan dengan hal ini.

Lantas, bagaimana memulainya? Tidak terlalu sulit apabila niat kita sudah bulat. Mulailah bertanya kesana kemarin dimana dan bagaimana bisa mendapatkan baju muslim dengan harga pabrik. Di media internet, informasi semacam ini sangat banyak tersedia. Tinggal ketik kata kunci, misalnya, 'busana muslim' di Google.co.id, maka disana dapat kita pilah mana tempat yang cocok untuk kita jadikan supplier toko / tempat kulakan baju muslim kita.

Setelah mendapat baju muslim yang akan dijual, langkah berikutnya adalah menyediakan lokasi atau tempat berjualan. Ini bisa kita lakukan apakah dengan menyewa sebuah tempat dipinggir jalan, areal pasar, atau didalam sebuah mal. Bisa juga kita membuka gerai toko kita di ruang tamu atau garasi rumah.

Khusus untuk yang berencana membuka toko di pinggir jalan, mulailah untuk lebih membuka mata disepanjang jalan yang sering kita lalui. Sesekali jalankan motor atau mobil Anda secara lebih pelan, dan amati apakah ada ruko yang sedang dikontrakkan, atau di oper kontrak. Kalau ada nomor telpon yang bisa dihubungi, segera telpon dan tanyakan berapa harga sewanya. Jangan takut untuk melakukan telpon. Walaupun kita memang hanya sekedar tanya saja dan belum berniat menyewa, tetap usahakan untuk menelpon. Hal ini supaya kita bisa lebih mengetahui harga pasaran daerah situ untuk setahun sewa ruko, misalnya.

Membaca berbagai majalah muslim juga bisa menambah pengetahuan kita untuk memulai bisnis busana muslim. Disana biasanya terdapat banyak iklan produsen busana muslim - seperti Nibras - yang menawarkan baju dagangannya. Dari sekian banyak merek yang diiklankan disana, tentunya akan semakin memudahkan kita menentukan pilihan, bisnis baju muslim yang seperti apakah yang ingin kita kelola dan kembangkan.

Nah, sudahkah Anda tercerahkan dengan pemaparan mengenai bisnis busana muslim di Tanah air diatas? Kalau sudah apakah suah ada niat bagi Anda untuk berbisnis baju muslim di Indonesia?

Sebelum melangkah lebih jauh dan memutuskan jadi tidaknya, kami hanya mengingatkan bahwa berbisnis itu artinya kita menjadi usahawan. Atau pebisnis.

Menjadi seorang usahawan atau pebisnis di Indonesia sedang menjadi tren. Banyak orang di lingkungan kita - entah keluarga, tetangga atau teman - yang tiba-tiba saja memutuskan berhenti dari pekerjaan kantorannya, dan banting setir menjadi seorang pengusaha atau usahawan.

Itu jamak terjadi terutama di kalangan usia muda, under 40. Tentunya itu sah-sah saja. Sebab orang muda butuh tantangan untuk aktualisasi diri.

Nah, pertanyaannya apakah menjadi usahawan itu adalah sebuah kaharusan? Simak lanjutan paparan berikut ini...

Menjadi Usahawan Adalah Pilihan Bukan Keharusan

Dari sekian banyak jenis pekerjaan di masyarakat, berdagang (wiraswasta, atau memiliki usaha sendiri) adalah salah satu profesi yang sangat diapresiasi dalam Islam. Dengan berdagang atau berwiraswasta, insyaAllah diri kita akan menjadi mulia. Tentunya dengan catatan bahwa usaha atau bisnis yang kita jalankan itu bernilai ibadah, mengharap ridho Allah SWT semata. Dengan menjadi seorang pemilik usaha dan bukan karyawan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan baru di masyarakat. Hal ini menjadikan kita kuat tidak hanya (insyaAllah) dari sisi ide dan finansial, namun juga kemandirian. Rasulullah sendiri pernah menjadi seorang pedagang di jamannya.

Muslimah Berbisnis Baju Muslim

Sebuah hadits shahih berujar, muslim yang kuat lebih disukai daripada muslim yang lemah.

Seorang pemilik usaha akan dituntut untuk terus berinovasi dalam memajukan bisnisnya. Ini menjadikan akal pikirannya akan senantiasa fresh karena terus bermunculan ide-ide baru. Yang menarik, pelaksanaan ide-ide itu bisa diwujudkan sesuka kita, tanpa ada yang merintangi atau membatasi. Jauh daripada itu, kegairahan serta semangat yang meluap-luap itu seringnya akan berhasil diwujudkannya dalam hidup keseharian dalam bentuk aksi dan karya nyata, karena keyakinannya sangat tinggi.

Seseorang yang sedang dirasuki semangat wirausaha yang super tinggi, rasa percaya dirinya sangat besar, serta tahan banting dan cemooh. Apalagi hanya sekedar gunjingan kanan kiri, rasanya yang seperti itu bakalan lewat. Anjing mengonggong kafilah berlalu.

Ada sebuah hadits yang menjadi pelecut semangat bagi seseorang untuk segera beralih dari seorang karyawan menjadi usahawan: 9 dari 10 pintu rejeki adalah berdagang. Coba bayangkan, luar biasa bukan? Walaupun sebagian ulama menganggap kedudukan hadits ini tidak begitu kuat, namun setidaknya pesan moral yang dikandungnya sangatlah tinggi.

Berdagang disini bisa berarti berdagang apa saja. Berdagang barang, jasa, ide, dan sebagainya. Yang jelas, penekanan utamanya adalah kita sendiri yang memegang kelangsungan hidup usaha itu, alias sebagai pemilik (owner). Dengan menjadi pemilik sebuah usaha, maka kita bisa dikatakan telah membantu negara dengan salah satu contohnya membantu membuka lapangan kerja. Kita bisa memperkerjakan mereka dan menggajinya. Bukanlah ini adalah hal mulia? Tangan diatas (memberi gaji) selalu lebih baik daripada tangan dibawah (menerima gaji).

Oleh karena itu, dilihat dari derajat kemuliaan, bisa jadi seorang tukang bakso kemuliaannya lebih tinggi dari seorang menejer perusahaan, misalnya. Apa pasal? Tukang bakso itu bisa menggaji karyawannya tiap bulan (misal, tukang cuci piringnya), sementara menejer itu hanya mampu menerima gaji tiap bulan. Karenanya penting bagi kita untuk senantiasa jangan gede rumongso (GR), bahwa bekerja di sebuah gedung jangkung mewah yang senantias ber air-conditioning sebagai karyawan berdasi. Tetaplah rendah hati dan jangan sombong. Karena bisa jadi, lewat ilustrasi contoh diatas, pedagang asongan di pintu pagar gedung kantor Anda jauh lebih mulia.

Hanya saja, hadits diatas janganlah dianggap sebagai harga mati bahwa berdagang adalah yang terbaik. Ingat, ada hadits ‘pembanding’ Rasulullah yang mengatakan “Kalau sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahli, maka tunggulah kehancurannya.”.

Menjalankan sebuah bisnis (misalnya baju muslim, sewa mobil di Bali atau usaha mandi bola memerlukan keahlian tersendiri. Memerlukan kesabaran, kompetensi serta keberanian dalam menanggung resiko.

Seorang karyawan yang kurang sabar dalam memupuk kekayaan materi, tidak bisa dipaksa untuk menjadi pengusaha yang ulet. Pikirannya biasanya sangat cetek (dangkal) : jadi karyawan saja biar akhir bulan nanti langsung dapat gaji. Seorang pengusaha tidak bisa berpikir seperti itu. Pikiran seorang pengusaha jauh melampaui hitungan hari atau bulan. Hitungannya sudah tahunan, dan kadang malah tidak berujung. Raksasa rokok Sampoerna misalnya, boleh jadi pendirinya sudah meninggal dunia, tapi penerusnya tetap berhasil menjaga pemikiran empunya sehingga usahanya masih terus bercokol hingga sekarang.

Demikian juga mengenai kompetensi. Tidak semua orang bisa segera menjadi ahli, misalnya, dalam hal menawarkan sesuatu. Jika perdagangan identik dengan menawarkan sesuatu (offering), seorang yang berlatar belakang pekerjaan di belakang meja (akuntan, kasir, dsb) kadangkala sangat sulit disuruh menawarkan sebuah produk. Jangan memaksa seseorang untuk menangani sebuah urusan, kalau dia sekiranya memang tidak atau belum ahli menanganinya.

Keberanian? Menjadi usahawan butuh keberanian. Keberanian menanggung rugi, menjadi melarat, dimaki orang, diremehkan dan dicemooh orang, adalah bagian dari resiko keseharian seorang pemilik usaha.

Oleh karena itu, menjadi usahawan bukanlah keharusan. Menjadi usahawan adalah sekedar pilihan. Namun, ini adalah sebuah pilihan yang memang betul-betul sangat dianjurkan untuk dipilih. Sebuah pilihan yang insyaAllah apabila kita kuat mewujudkannya, maka kemuliaan jauh lebih tinggi yang akan kita raih, daripada hanya sekedar menjadi karyawan.

Ingin temanmu tahu tentang artikel ini? Tolong dibagikan ya..



Artikel lain di Bisnis:
Meningkatkan Omzet Bisnis Busana Muslim Online
Ukhti Kaos Muslimah
Maraknya Toko Busana Muslim di Bali

Kategori Lain:
Haji
Keluarga
Puasa
Shalat
Umum


BELANJA BERDASAR MEREK
ETHICA NIBRAS
UKHTI MUNIRA
FOLIA ACTUAL BASIC
   
BELANJA BERDASAR MODEL
GAMIS SARIMBIT
ATASAN / BLUS HIJAB SYAR'I
   
BELANJA BAJU KOKO DEWASA & ANAK
QOD DEWASA FATIH FIRA ANAK
NIBRAS DEWASA ETHICA ANAK

Home | Blog | Hot: Doa Terhindar Dari Hutang

eXTReMe Tracker