Selama ini kita selalu berusaha patuh dalam menjalankan ibadah wajib. Sebut saja, misalnya shalat. Shalat itu ada yang wajib dan ada yang sunnah. Contoh shalat wajib adalah shalat Isya’, Subuh, Dzuhur, Ashar dan Maghrib.
Sedangkan contoh shalat sunnah adalah shalat Tahajud, Dhuha, Qabliyah, Ba’diyah, dsb.

Kalau ada seorang muslim yang begitu taat dalam menjalankan ibadah shalat wajibnya, hakikatnya itu adalah hal yang lumrah. Bukan sesuatu yang luar biasa. Alias, normal saja.

Kenapa begitu? Karena itu memang sudah KEWAJIBAN sebagai perintah dari Allah SWT.

Lazimnya sebuah perintah, maka yang diperintah wajib menjalankannya.

Misalnya, kalau atasan Anda di kantor memberi perintah: “Tolong nanti sore jam 15.00 kamu bertemu dengan klien X, untuk membahas proyek Y, di kantor mereka. Beri presentasi terbaik ya, agar proyek ini gol.”

Kira-kira, kalau atasan Anda memberi perintah seperti diatas, apa yang akan Anda lakukan?

Betul. Sebagai bawahan yang waras, Anda pasti akan berdiri tegak, mengangguk kuat, dan bersuara lantang: “Baik, pak!”.

Maka pergilah Anda ke kantor klien tersebut, untuk memberikan presentasi terbaik.

Dan bisa ditebak, atasan Anda akan senang, karena Anda sudah menjalankan perintahnya dengan baik.

Membuat atasan senang adalah hal yang penting. Tapi, membuat atasan LEBIH senang lagi, adalah lebih penting. Senang yang bukan kepalang!

Bagaimana itu? Yaitu dengan cara pergi ke kantor klien tersebut dengan tak hanya presentasi.

Anda harus sedikit lebih kreatif. Alih-alih hanya datang ke kantor klien dengan membawa perlengkapan presentasi, tapi Anda juga membawa buah tangan (mungkin bisa berupa kue yang sedang ngetren di kota Anda).

Buah tangan atau oleh-oleh ini tak harus mahal. Yang sewajarnya saja. Anda tahu, sejujurnya, buah tangan walaupun murah, tapi diberikan secara tulus dan bersahabat, akan berdampak sama dengan buah tangan yang harganya selangit.

Nah, cairkan suasana presentasi yang biasanya tegang itu, dengan sebelumnya memberikan kue yang sedang ngetren tersebut ke front office mereka, misalnya. Bisa juga diberikan ke sekretarisnya. Atau bahkan bisa juga untuk satpam yang menjaga lini depan.

Lakukan dengan sealamiah dan sesupel mungkin.

Ingat: ini hanyalah sekedar memberi layanan lebih, bukan gratifikasi. Layanan lebihnya berupa oleh-oleh sekedarnya, dan layanan standarnya adalah presentasi.

Memberi layanan lebih melebihi standar yang ada itu tidak apa. Ini sudah standar dimana-mana. Dan bukan bermaksud menyogok.

Kalaulah khawatir itu dianggap gratifikasi, kita bisa memberi layanan tambahan lain.

Misalnya, kalau itu adalah proyek sebuah bangunan, untuk lebih menyakinkan dan spontan, Anda bisa menawarkan kepada klien untuk saat ini juga setelah presentasi pergi ke lokasi pembangunan yang sedang dikerjakan oleh kantor Anda.

Intinya, lakukan lebih dari sekedar yang ditentukan. Anda paham, kan?

Peluang Anda untuk bisa menggolkan proyek yang dipercayakan atasan insya Allah akan lebih besar. Dan, tentu dengan segala upaya yang Anda lakukan (layanan standar yang digabung dengan layanan lebih), atasan Anda akan LEBIH senang.

Atasan akan luebih senang lagi, kalau misalnya hari itu setelah jam kantor, Anda menawarkan ke atasan untuk memberi ringkasan hasil presentasi dengan klien.

Tidak masalah apabila atasan menolak dan lebih memilih membahasnya besok pagi. Yang penting adalah Anda sudah betul-betul menunjukkan tekad untuk golnya proyek itu.

Nah, kembali ke bahasan alasan kenapa ibadah sunnah itu TIDAK KALAH penting dari ibadah wajib.

Kalau Anda selalu shalat wajib tak ada putus seumur hidup, selalu melakukannya diawal waktu, dan (bagi laki-laki) tak pernah absen melakukannya di masjid, maka itu bukan hal yang luar biasa. Itu sudah dari sononya.

Kenapa? Karena memang kita diperintah wajibnya seperti itu.

Yang namanya perintah wajib, tak ada alasan untuk tak menjalankannya.

Yang luar biasa adalah ketika kita juga menjalankan apa yang tidak diwajibkan (sunnah), tapi setara dengan kualitas yang wajib.

Itu artinya kita aware atau peduli dengan perintah. Yang tidak wajib saja kita jalankan dengan baik, apalagi yang wajib?

Oleh karena itu, Allah SWT akan LEBIH SENANG apabila kita juga mendirikan shalat tahajud dan dhuha disetiap malam dan pagi kita.

Pun Allah SWT juga akan lebih senang kalau sebelum mendirikan shalat Isya’, kita terlebih dulu melakukan shalat Tahiyatul Masjid lalu shalat Qabliyah, dan shalat Ba’diyah setelah Isya’.

Allah SWT juga akan senang apabila sudah menunaikan zakat wajib yang 2.5 % itu, kita tidak kikir untuk sedekah dan infaq diluar nilai itu.

Allah SWT juga akan senang apabila sudah sempurna puasa wajib di bulan Ramadhan, lalu kita masih berpuasa senin dan kamis diluar bulan Ramadhan.

Pun Allah SWT juga akan senang apabila sudah pergi haji, kita tidak eman-eman untuk juga pergi umrah.

Mulai sekarang, jangan ‘kikir’ ibadah sunnah, ya!

Wassalam.