Pada setiap bulan Ramadhan, agenda tahunan yang tidak mungkin saya lewatkan adalah berkunjung ke Masjid Agung Al-Akbar Surabaya. Seperti halnya malam ini, alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang masih mempertemukan saya dengan Ramadhan tahun ini, dan alhamdulillah masih menjaga hati saya untuk selalu bisa mengunjungi masjid ini setiap tahun terutama di bulan suci Ramadhan tahun ini.

Seperti halnya malam ini. Malam ini adalah malam ke 27 Ramadhan 1431 Hijriah. Artinya, malam ini adalah malam ganjil yang ke 4. Ini adalah salah satu malam yang insyaAllah adalah salah satu kandidat malam Lailatul Qadar. Dan, seperti halnya umat muslim lainnya, saya hendak menyongsong malam penuh barokah ini dengan melakukan iktikaf di masjid ini.

Sebetulnya, 2 hari yang lalu saya juga mengunjungi masjid terbesar di kawasan timur Indonesia ini. Tapi, malam itu khusus hanya untuk melakukan shalat maghrib dan shalat taraweh. Waktu itu saya berkunjung bersama ibu dan mbah saya, serta paklek dan bulek. Istri saya tahun ini absen tidak ikut karena usia kandungannya yang semakin tua. Nah, untuk malam ini, saya sudah berniat untuk tidak hanya shalat maghrib dan taraweh di masjid Agung Surabaya ini, tapi sekalian juga melakukan iktikaf (berdiam diri di masjid) sampai pagi.

Sebelum memulai prosesi iktikaf, saya sempatkan mengetik blog ini. InsyaAllah sebelum hari berganti pagi, penulisan ini sudah selesai :) , sehingga saya bisa segera menutup laptop ini dan memulai membaca Al-Quran untuk kemudian shalat malam berjamaah bersama takmir masjid.

Apa yang membuat saya begitu ingin selalu kembali ke masjid ini setiap tahun? Tidak lain tidak bukan adalah kemegahan yang ada di masjid ini. Masjid Agung Al-Akbar Surabaya, sesuai namanya, memang betul-betul akbar (besar). Posisinya yang strategis dekat jalan tol yang menghubungkan berbagai kota disekitar kota Surabaya, seperti Mojokerto, Jombang, Krian, Sidoarjo, Gresik, dsb. dengan pusat kota Surabaya, membuat para jamaahnya datang dari dalam dan luar kota Surabaya.

Selain itu, ketertiban dan keprofesionalan yang ada dalam me-manage sebuah masjid yang bisa melayani ribuan jamaah, membuat saya terkesan. Kesan tertib, rapi dan profesional dapat saya rasakan. Memang, sebuah masjid yang sangat megah ini harus dikelola oleh orang-orang yang sangat amanah sekaligus profesional.

Berbuka puasa dan shalat taraweh di masjid ini bagi saya sangatlah pas. Pas sajian takjil dan makannya, pas waktu mulai shalatnya, pas bacaan shalatnya (tartil dan tuma’ninah). Selain itu, para penceramah di masjid ini dalam menyampaikan materi ceramahnya, isinya daging semua, alias sangat bermutu. Tidak mengherankan, karena penceramah di masjid ini memang kaliber nasional. Tercatat, kalau tidak lupa, saya pernah shalat taraweh disini, dan yang jadi penceramah adalah orang-orang sekelas Muhammad Nuh (Menteri Pendidikan Nasional), Ustadz Arifin Ilham, Hidayat Nur Wahid (mantan ketua MPR), dsb. Malam tadi, meskipun tidak menjadi penceramah shalat taraweh, sempat pula berceramah sebelum buka puasa, KH Said Agil Siradj Ketua Umum PBNU.

InsyaAllah, melakukan shalat taraweh di masjid Agung Al-Akbar Surabaya dengan jamaah ribuan seperti ini, menjadi keistiqomahan saya. Siapa tahu, karena senang dan cinta berkunjung ke masjid berjamaah ribuan seperti ini, Allah SWT membuat saya untuk bisa segera berhaji dengan jumlah jamaah yang berjumlah jutaan di Makkah Al-Mukaramah. Amin :)

Ah, Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, kawan. Ayo, tingkatkan amal dan ibadah kita sebelum Ramadhan betul-betul akan meninggalkan kita!

Wassalam,

Arif Haliman