Busana Muslim Berkualitas - Online dari Bali!
     
  
XL : +62 87 860 198 826
Simpati : +62 82 333 543 838
IM3 / Whatsapp : +62 85 655 178 508
Pin BB : 59D006A0 & 5B80C51A
Dapatkan Update Terbaru via Facebook
Sales 1
Ruroh
Sales 2
Salis
Sales 3
Izza
Webmaster
Arif
 
 
Busana Dewasa
Ethica (155)
SIK Clothing (34)
Khabeela (23)
Qirani (97)
Actual Basic (96)
Nibras (44)
Ukhti (31)
Deaiya (37)
Folia (79)
Silmi (122)
Mutif (70)
Rahnem (20)
Keke (6)
Toyusin (41)

Busana Remaja
SIK Clothing (8)
Khabeela (23)
Qirani (41)
Nibras (32)
Ethica (155)

Baju Anak
Qirani Kids (58)
Fatih Fira (134)
Alma (27)
Ethica (92)
Poeti (5)
KEKE Kids (6)
Silmi Anak (26)
Mutif Little (20)
Rahnem Kids (15)

Rabbani (17)
Zoya (41)
Elzatta (49)
Munira (13)
Shasmira (20)
Hazna (6)
Mardha (3)
Sunrise (25)


Mukena

Aksesoris

Asyik..Ada Sale!

Toko Kami :

Toko Salsa Busana
Perumahan Pondok Citra Residence II No. 3
Jl. Besakih, Suwung Kauh, Pemogan, Denpasar Selatan Bali - Indonesia

Email:
order at muslimbusana.com

Jam Buka Senin - Jum'at:
09.00 - 17.00 WITA

Jam Buka Sabtu - Minggu:
09.00 - 14.00 WITA



Adab Berdagang Dalam Islam

Posted under: Umum

Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, "...Allah telah menghalalkan jual beli..." (QS 2:275). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah pernah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Ini artinya aktivitas dagang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Melalui jalan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah SWT terpancar daripadanya.

Namun perlu disadari bahwa jual beli yang dihalalkan oleh Allah SWT yaitu yang dilakukan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Hukum asal mu'amalah itu adalah al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya. Meski demikian, bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengaturnya. Ada perangkat atau ketentuan tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang hendak melakukan aktifitas jual beli.

Diantara komponen tersebut adalah memperhatikan masalah akad. Yang membedakan ada tidaknya unsur Riba dan Gharar (penipuan) dalam sebuah transaksi adalah terletak pada akadnya. Sebagai contoh adalah akad murabahah dan pinjaman bunga dalam bank konvensional. Secara hitungan matematis, boleh jadi keduanya sama.

Misalnya, seseorang membutuhkan sebuah barang dengan harga pokok Rp 1000. Jika ia pergi ke bank Syariah dan setuju untuk mendapatkan pembiayaan dengan pola murabahah, dengan marjin profit yang disepakatinya 10%, maka secara matematis, kewajiban orang tersebut adalah sebesar Rp 1100. Jika ia memilih bank konvensioanl, yang menawarkan pinjaman dengan bunga sebesar 10%, maka kewajiban yang harus ia penuhi juga sebesar Rp 1100. Namun demikian, transaksi yang pertama (murabahah) adalah halal, sedangkan yang kedua adalah haram. Perbedaannya adalah terletak pada faktor akad.

Beberapa sistem akad muamalah dikenal dalam Islam meliputi, pertama sistem murabahah. Jika akadnya murabahah, maka harus jelas barang apa yang diperjualbelikan dan berapa marjin profit yang disepakati. Murabahan adalah menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Misalnya A membeli produk dari pabrik. Kemudian A menjual kepada B dengan mengatakan; "Saya menjual produk ini kepada anda dengan harga Rp 11.000,-. Harga pokoknya Rp 10.000,- dan saya ambil keuntungan  Rp 1.000,-

Selanjutnya B tidak dapat langsung bertransaksi dengan pabrik. Jika B mau menjual kepada C, maka prosesnya sama dengan A (keuntungan yang hendak diambil terserah kepada B)

Kedua, Sistem mudharabah. Jika akadnya mudarabah, maka harus jelas jenis usahanya, siapa yang bertindak sebagai rabul maal (pemilik modal)
dan mudarib-nya (pengelola usaha), serta bagaimana rasio bagi hasilnya. Mudharabah adalah Akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (malik, shahib al-maal, LKS) menyediakan seluruh modal sedang di pihak kedua ('amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab dalam mudharabah berlaku hukm wakalah (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya (An-Nabhani, 1990:152). Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaan nya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal (Al-Khayyath, Asy-Syarikat fi asy-Syaria'ah al Islamiyayyah, 2/66). Mudharabah sendiri terdiri dari dua sitem yaitu muqhthalaqah dan yang kedua muqayyadah. Mudhorobah muthlaqoh adalah kontrak mudhorobah yang tidak memiliki ikatan tertentu. Sedangkan muqoyyadah pada akadnya dicantumkan persyaratan-persyaratan tertentu.

Ketiga, sistem musyarakah. Jika akadnya adalah musyarakah, maka harus jelas jenis usahanya, berapa rasio berbagi keuntungan dan kerugiannya, dan bagaimana kontribusi terhadap aspek manajemennya. Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu, di mana masing-masing pihak memeberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Misalnya X bekerja sama dengan A untuk menjual produknya. Dalam kesepakatan, X menyediakan barang, sedangkan A menanggung biaya transportasi pemasaran. Selanjutnya hak masing-masing dibagi sesuai dengan kesepakatan.

Adab-Adab Berdagang

Islam menggariskan beberapa adab untuk diamalkan ketika berniaga. Adab ini bertujuan untuk menghindari kesalahpahaman dan penipuan dalam berdagang. Diantara adab-adab tersebut antara lain:

a. Amanah, artinya penjual dan pembeli sama-sama bersikap jujur. Misalkan penjual tidak boleh mencampur buah-buahan yang lama dangan yang baru dan menjualnya dengan harga yang sama. Demikian juga pembeli harus bersikap jujur jika ada kelebihan pengembalian uang.

b. Ihsan. Yang dimaksud ihsan adalah menjalankan perdagangan dengan memepertimbangkan aspek kemaslahatan dan keberkahan dari Allah SWT, selain mendapat keuntungan.

c. Bekerjasama. Penjual dan pembeli hendaklah bermusyawarah sekiranya timbul masalah yang tidak diinginkan.

d. Tekun. Perdagangan hendaklah dilakukan dengan tekun dan bersunguh-sungguh agar berkembang maju.

e. Menjauhi perkara yang haram. Penjual hendaklah menjauhi perkara yang haram selama menjalankan pernigaan. Contohnya menipu dalam timbangan, menjalankan muamalat riba, dan menjual barang yang diharamkan.

f. Melindungi penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli hendaklah saling melindungi hak masing-masing. Contohnya penjual memberikan peluang yang secukupnya kepada pembeli untuk melihat pilihan ketika hendak membeli sesuatu barang.

Demikianlah beberapa adab dalam berdagang sehingga tercipta masyarakat yang haramoni dan sejahtera dan mendapat ridha dari Allah SWT.

Dari: M. Ismail - Hidayatullah




Artikel lain di Umum:
Surga Neraka Memang Kekal
Chaerul Tanjung Sang Inspirator
Salah Satu Keunikan Bali
Sering Ke Masjid Tapi Kok
Semarak Maulid Nabi Muhammad di Denpasar

Kategori Lain:
Bisnis
Haji
Puasa
Shalat


     
  
XL : +62 87 860 198 826
Simpati : +62 82 333 543 838
IM3 / Whatsapp : +62 85 655 178 508
Pin BB : 59D006A0 & 5B80C51A
Dapatkan Update Terbaru via Facebook
Sales 1
Ruroh
Sales 2
Salis
Sales 3
Izza
Webmaster
Arif
 
 

MuslimBusana.com © 2007-2015 All Right Reserved
MuslimBusana.com adalah media belanja Busana Muslim online dari Kampung Islam Kepaon - Bali Indonesia

Kerudung Zoya Actual Basic Kaos SIK Clothing kaos muslimah Qirani Ethica Gamis

Powered by BaliWebby.com

eXTReMe Tracker