HOME        TENTANG KAMI        FAQ         ORDER / HUBUNGI KAMI        PROMO        BLOG           FANS PAGE

BUSANA DEWASA
Gamis & Blus
Ethica (109)
Zarela (15)
SIK Clothing (24)
Khabeela (20)
Qirani (125)
Actual Basic (25)
Nibras (43)
Ukhti (43)
Deaiya (20)
Folia (26)
Silmi (77)
Mutif (70)
Rahnem (27)
Keke (2)
Toyusin (40)

SIK Clothing (13)
Khabeela (11)
Qirani (38)
Nibras (35)
Ethica (35)

BAJU ANAK

Rabbani (15)
Deaiya (1)
Zoya (36)
Elzatta (40)
Munira (42)
Mardha (1)
Sunrise (26)
Ihsana (27)

Qirani (30)
Nibras (17)
Qod (24)
SIK Clothing (12)
Ethica Anak (14)
Fatih Fira Anak (18)

MUKENA

AKSESORIS

ARTIKEL ISLAM

TOKO KAMI

Toko Salsa Busana
Perumahan Pondok Citra Residence II No. 3
Jl. Besakih, Suwung Kauh, Pemogan, Denpasar Selatan Bali - Indonesia

WA/BBM/CHAT/TELP/SMS:
085 655 178 508
59D006A0
081 931 196 198
082 333 543 838
087 860 198 826

Jam Buka Senin - Jum'at:
09.00 - 17.00 WITA

Jam Buka Sabtu - Minggu:
09.00 - 14.00 WITA



Puasa Kelas Awam

Posted under: Puasa

gi kebanyakan kaum muslim di indonesia, isi surat Al-Baqarah ayat 183 diatas boleh jadi sudah sangat familiar. Maklum dari tahun ke tahun setaip memasukai bulan Ramadhan. lantunan ayat-ayat tersebut selalu disetir ulang oleh para ulama dalam setaiap ceramahnya.

Setiran ayat tadi seolah sebuah pertanda dimulainya ritual tahunan yang dijalankan kaum muslim seluruh dunia sepanjang satu bulan.

Tulisan ini mencoba menelusuri lebih jauh hikmah bathin dan pesan moral dari puasa. Tulisan terinpsirasi dari pertanyaan seorang kawan (40thn) dalam sebuah forum pengajian, yang kalau dipikir-pikir merupakan pertanyaan yang kerap kali diajukan sebagian darikita dalam setiap momen hening.

"Sekian puluh tahun puasa, ketakwaan saya koq begini-begini aja. Habis momentum Ramadhan, sholat masih suka tidak tepat waktu, mengaji jarang, masih tidak sabaran, masih suka iri sama orang lain, tidak ikhlas serta suka itung-itungan dalam bersedekah."

Mengenal Diri

sebelum terlalu jauh membahas aspek kenapa dan bagaimana dari pertanyaan kawan diatas, ada baiknya kita mempreteli lebih dahulu konsep dasar kedirian manusia, konsep puasa dan pengertian taqwa.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam salah satu karya terbesar Ihyaa Ulumuddin, struktur kedirian manusia itu dibagi ke dalam tiga hal yaitu  jasad (jism) yang merupakan aspek lahir, jiwa (nafs) yang merupakan aspek batin, serta ruh.

Jasad atau tubuh manusia tersusun dari materi dasar api, tanah, air dan udara sebagaimana yang dapat kita indrai. Unsur dasar yang membentuk manusia ini sama dengan unsur-unsur dasar dari bumi, tempatnya jasad itu tinggal. Jasad dihidupkan oleh hembusan ruh. Setelah hidup ia membutuhkan energi yang dapat diperolehnya dari makanan yang bersumber dari bumi.

Ihwal informasi ini termaktub dalam Al-Baqarah 30-37: Dan sungguh kami telah menciptakan al-insan dari saripatih tanah.

Sedangkan jiwa merupakan suatu barzakh (intermediary) antara jasad dan ruh. Jiwa tersusun dari unsur cahaya ilahiah dan memiliki suatu kehidupan tersendiri yang terpisah dari jasad. Jiwa memperoleh energi dari ruh.

Selam perjalanannya di dunia, jiwa menggunakan kendaraan jasad. Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa agar jiwa dapat mengambil bagian dari pendidikan ilahiah yang ditebarkan di bumi. Di bumi ini pula jiwa diseru untuk melaksanakan maksud dan penciptaannya.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah sesuatu pada kaum sehingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka...(Quran S Ashaad:75-83)

Akan halnya ruh, tersusun dari cahaya yang paling murni dan paling tinggi kedudukannya dalam kesuluruhan aspek manusia-karena ruh merupakan percikan langsung zat Allah.

Ruh memberikan kehidupan kepada jasad-tanpa ruh jasad segera terurai kebali menjadi unsur -unsur bumi pembentuknya. Ruh juga sumber energi bagi nafs. Apabila cahaya ruh tidak mencapai nafs maka nafs tersebut sekalipun dia tetap hidup, tapi dia tidak memiliki energi atau lumpuh.

Penyucian Din (Tazkiyatun-Nafs)
Dalam realitanya, unsur kedirian manusia selalu menjadi tempat pertempuran antara fitrah kebaikan dan hasrat jahat. Hal ini wajar terjadi, karena hawa nafsu, syahwat dan qaib merupakan perangkat bathin yang memang diciptakan Allah menyatu dengan jiwa. Saat janin dan jiwa memulai kehidupannya bersamaan adanya tiupan ruh Allah ke rahim, maka syahwat, nafsu dan qalbu tadi juga turut hidup membentuk unsur kedirian calon anak manusia itu.

Syahwat merupakan hasrat din yang berkenaan dengan unsur-unsur material (harta, tahta dan wanita). Hawa nafsu berkenaan dengan hasrat non-material seperti takabur, riya, ujub harga din, iri, dengki dan sebagainya. Kedua hasrat ini sering disebut sebagai tarikan unsur bumi yang bersifat fana(sementara).

Sedangkan Qalb merupakan inti dan jiwa tempat suara-suara kebenaran ilahiah disuarakan. Qalbu harus terus dijaga agar tetap bersih dan bercahaya sehingga siap menerima hidayah dan petunjuk dan Maha Pencipta.

Kenyataanya dalam grafik pertumbuhan manusia pada umumnya mulai dan masa bayi, balita, kanak-kanak, dewasa hingga tua, qalbu terus mengalami pemburaman dan penggelapan karena dosa yang ditimbulkan akibat dominasi hawa nafsu dan syahwat.
 
Saking kuatnya dominasi nafsu syahwat tadi, kualitas manusia bersangkutan dikatakan Allah lebih rendah dari binatang. Nauzubillah min dzalik. Jasad boleh jadi berbentuk manusia tampan atau cantik, namun jiwanya lebih buruk dan babi ataupun anjing.
 
Kombinasi rasa lapar yang melemahkan jasad, ritual sholat malam, intensitas membaca Al-Qur’an serta munculnya intensitas empati kepada kaum miskin menjadi semacam jurus untuk mematahkan kekuatan nafsu syahwat.

Proses ini secara langsung membuat manusia makin tahu diri akan posisinya sebagai mahluk yang nothing dan nobody di hadapan penciptanya, serta sadar akan kehidupan dunia yang fana.

Proses ini sekaligus menyadarkan manusia bahwa hakekat kedirian seseorang adalah jiwanya yang masih akan berkelana ke alam selanjutnya setelah adanya kematian jasad.Akhirnya, sebagai pemilik dari qalbu yang bersih dan kuat maka puasa pada dasarnya menyadarkan manusia akan potensi fitrah kemanusiannya sebagai khalifah di muka bumi.

Puasa Orang Awam

Terakhir, kita layak merenungi ulasan lmam Al-Ghazali tentang pengkategorian puasa. Bahwa ada puasanya orang awam. Yaitu kategori puasa yang minimalis sesuai pninsip fiqih saja berupa menahan din dan makan, minum dan berhubungan seks.
 
Ada puasanya orang khusus, yaitu puasa jenis minimalis tadi ditambah mempuasakan seluruh indera baik penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan lain-lain dan segala perbuatan dosa hawa nafsu.
 
Ada juga puasanya orang yang lebih khusus lagi (puasa para Nabi dan Wali Allah). Yaitu puasa dari mengingat hal-hal selain Allah. Sesuai prinsip Laa Ilaaha Illallah ( Segala yang ada di dunia hanya ilusi, yang eksis hanya Allah. Sang maha Pencipta).

Pengkategorian puasa mi mudah mudahan bisa menjelaskan kenapa hasil puasa kita selama ini tidak kunjung membawa kita kepada derajat taqwa. Puasa kita masih berkutat pada aspek oral, anal dan genital saja.

FR:sep-okt 2007


 


Ingin temanmu tahu tentang artikel ini? Tolong dibagikan ya..

Obral promo busana muslim



Artikel lain di Puasa:

Kategori Lain:
Bisnis
Haji
Keluarga
Shalat
Umum


Home | Tentang Kami | FAQ | Order / Hubungi Kami | Promo | Blog | FB Fans Page

MuslimBusana.com © 2007-2017 (10 Tahun Melayani).
MuslimBusana.com adalah media belanja Busana Muslim online terbesar dari Denpasar, Bali Indonesia.

Produk unggulan:
Kerudung Zoya Actual Basic Kaos Folia Gamis Katun Qirani Remaja Ethica Gamis

Jasa kurir pendukung

Kantor Pos TIKI Kurir
JNE Kurir Paket J&T Ekspress
DAKOTA Kirim Paket Pandu Logistics
eXTReMe Tracker