Imam keluarga kita, yaitu suami, sangat diharapkan keteladanannya dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam hal shalat berjama’ah di masjid. Karena kita tahu, shalat berjama’ah di masjid, bagi laki-laki adalah sunnah muakaddah (sangat dianjurkan). Beberapa imam bahkan menghukuminya masjid. Keteladanan itu soalnya akan dilihat dan diamati secara langsung terutama oleh istri dan anak-anak. Apabila contoh keteladanan yang diberikan sudah baik (istiqomah shalat berjama’ah di masjid), maka insya Allah akan membawa kebaikan dan barokah dalam rumah tangga.

Nah, setelah membaca tips bagaimana agar anak-anak kita gampang untuk diajak pergi masjid (untuk melakukan shalat, atau pergi mengaji, misalnya), berikut adalah ulasan mengenai tips bagaimana agar suami Anda mudah dan mau untuk pergi ke masjid:

Image may contain: 2 people , indoor

Anda (Istri) adalah faktor UTAMA dan PERTAMA. Nothing else.

Kalau Anda menutup auratnya masih serampangan, maka suami Anda pun juga tak akan kalah serampangannya dalam beribadah, dalam hal ini ibadah shalatnya.

Kalau ibadah imam keluarga Anda serampangan, Anda kudu waspada. Keberkahan keluarga Anda sedang terancam. Itu katanya ustadz. Bukan kata saya.

Alih-alih mengharap sang pujaan rajin shalat di masjid, shalat di rumah pun akan gampang mengakhirkan.

Mungkin Anda protes: harusnya suami dong yang kasih contoh dulu, kan dia imam keluarga. Rajin dulu ke masjid, baru saya bener nutup auratnya… Iya ada betulnya.

Tapi, ingatlah bahwa kebaikan itu menular. Sebaliknya, kejelekan juga menular. Dan herannya, tingkat penularan si jelek jauh lebih ligat daripada si baik. Apes kita.

Kalau cara menutup aurat Anda sudah sempurna duluan, insya Allah suami Anda akan kecipratan barokah dan hidayah dari cara menutup aurat Anda yang ciamik.

Sebaliknya, kalau protes melulu yang Anda dulukan, gengsi suami akan muncul yang itu berarti sinyal penolakan.

Itu loh yang penting, dan mahal harganya: HIDAYAH.

Untuk menggambarkan betapa mahal hidayah itu, salah satunya bisa lewat 1 + 1 = 2.

Anda kan sering dengar, orang menjawab 11.

Motifnya beragam; memang tidak tahu, pura-pura tidak tahu, guyon, atau mengolok-olok.

Padahal sudah berapa milyar kali pelajaran itu diberikan, sejak dari masih kecil hingga dewasa, sejak dari TK sampai PT, jawabannya masih salah. Rugi besar.

Adalah hil yang mustahal mengharap orang lain berubah, tapi kita sendiri tak mau berubah.

Kalau dulu belum berkerudung, sekarang coba deh berkerudung.

Kalau dulu masih berkerudung ‘gaul’, yang sebatas sampai pundak, atau yang ada belahannya itu, sekarang coba deh dipanjangkan lagi sampai menutupi dada. Jilbab lebar, istilah kerennya.

Kalau Anda bertanya, mengapa kok sampai dada? Ya memang perintahnya seperti itu; dijulurkan sampai menutupi dada. Bukan menutupi pundak, thok.

Kalau dulu keluar rumah masih bercelana jeans, sekarang coba deh ganti gamis (baju kurung).

Kalau Anda berkata; pakai gamis kan kayak emak-emak, gak modis? Maka saya jawab; Anda sungguh ketinggalan jaman. Yah, sekitar 15 tahunan ketinggalannya :)

Kalau dulu jalan-jalan tanpa kaos kaki, sekarang pakai deh kaos kakinya.

Kalau Anda penasaran; lho..lho..mengapa pula berkaos kaki? Rasulullah Saw menyuruh wanita muslim menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Itu artinya, jari kaki Anda yg lentik dan jenjang itu juga aurat. Jadi harus ditutupi. Ini juga kata ustadz, lho, bukan kata saya.

Dalam hal ini, kasus yang sama terjadi di 1 + 1 = 2 tadi.

Materi dakwah sudah datang bak hujan deras. Pengajian kelas kampung hingga kelas internasional pun sudah Anda datangi. Rasa-rasanya kuping ini sudah hapal dengan bunyi ayat dan haditsnya. Tapi, kalau rahman dan rahiimnya Allah SWT (dalam bentuk Hidayah) belum sampai, ya jawabnya 11 tadi.

Bagi yang tidak tahu, ya gak menutup aurat. Yang pura-pura tak tahu, cuek aja. Yang guyon, ngatain mirip ninja. Yg mengolok-olok, ngatain WTS (wanita tahan sumuk / gerah).

Kalau mau, Anda bisa berkenalan dengan istri tercinta dan tersayang saya, Salis Aminatu Rodhiyah, dan berkonsultasi kepadanya perihal seputar baju muslim yang up to date. Dia akan dengan senang hati membantu Anda, disela-sela waktunya sambil ngeramut 3 anak

Membantu Anda dalam bisnis busana muslim pun bisa. Memberi mentoring/pelatihan via online juga ok. Membranding diri Anda ingin dikenal orang sebagai apa di medsos is welcome. Insya Allah.

Omong-omong nih, dulu istri saya (yang tercinta, tersayang dan terkasih) selalu pakai jeans kemanapun pergi. Pakai jilbab juga, tpi yang model ‘gaul’ itu.

Saya pun tak mau kalah. Mendampinginya kemanapun pergi, biasa pake celana 3/4. Kadang yang ada bolong-bolongnya ala ABG (Anake Bakul Gedhang). Kaos oblong yang terlalu kekecilan sehingga kalau sedikit nungging, (maaf) Compact Disc nya kelihatan.

Tapi alhamdulillah 101%, hidayah itu pertama kali datang melalui istri saya (yang tercinta, tersayang, terkasih dan termanja).

Entah dapat wangsit dari mana, dia perlahan merubah penampilannya. Sedikit demi sedikit. Jeans sudah mulai ditinggal. Jilbab pendek mulai sedikit memanjang. Setelan berganti gamis. Dan, kakinya sudah berkaos kaki!

Anda mungkin nyeletuk; saya sudah sempurna menutup aurat, tapi suami masih ‘mbandel’. Jawabnya cuman satu: SABAR. Sabar hingga mungkin berpuluh tahun hingga akhirnya hidayah itu hinggap di genting rumah Anda, melorot jatuh di jendelanya, dan dikecup mesra oleh sang pujaan…Cuit..cuiiiiitttt…

Ingat; wanita yang baik untuk lelaki yang baik.

Saya sendiri sudah jelas bukan lelaki yg baik 100%, tapi setidaknya ada keinginan kuat kearah itu.

Maka sebagai suami saya mulai mengimbanginya. Memantaskan diri. Masak sang istri sudah sedemikian tertutupnya, sang suami masih selengekan bagai ABG telat puber?

Keterusan menjadi ABG saja sudah sangat mengerikan, apalah lagi pubernya telat?? Tidaaaaaakkkkk…..

Dan…Mulailah saya juga merubah penampilan. Perlahan-lahan. Mulailah berkenalan dengan baju koko. Sarungan dan celana cingkrangan. Jenggotan. Itu semua dalam rangka berusaha menuju yg 100% itu. Dan akhirnya: Alhamdulillah, istiqomah shalat 5 waktu di masjid!

Semoga Allah Swt menjadikannya ini sebagai kebiasaan sampai akhir hayat aamiin….

Esok-esok, insya Allah tak ceritakan apakah setelah sudah istiqomah shalat 5 waktu di masjid, Anda berpikir segala

nya sudah OK? Oh dude…you are not even close!

Well…okay…sementara, begitulah cerita dari saya.

Apa cerita Anda?

Arif Haliman

Facebook: https://www.facebook.com/arif.haliman