Menjelang tahun baru masehi setiap tahun, tak terkecuali akan berakhirnya 2016 dan menyambut 2017 ini, jamak terlihat dimana-mana: kesia-siaan dan kemubadziran. Kesia-siaannya sudah tingkat dewa. Terlalu kentara, sehingga sulit untuk disangkal. Memang ada sedikit manfaatnya. Tapi dibandingkan mudharatnya, jelas yang terakhir ini jauh lebih besar. Menyadari selalu berulangnya rutinitas seperti ini, tak terkecuali juga dilakukan orang Muslim seperti Anda – mungkin selama usia Anda – sudah saatnya kita berucap Istighfar: Astaghfirullah hal adziim….Kalau perlu, pasang sebuah bacaan lafadz Istighfar di rumah.Istighfar Di Malam Tahun Baru

Bagi orang yang waras, terutama dia seorang Muslim, sungguh mengherankan mengapa rutinitas yang jauh dari syariat dan manfaat itu selalu saja dilakukan. Entah kapan akan berhenti merayakannya, dan lebih bertafakkur akhir tahun daripada hura-hura di jalanan.

Kalau direnungkan, banyak orang Muslim yang ikut larut dalam acara akhir tahun, karena kurang tak tahu agama. Padahal di agama Islam, terlalu banyak ayat dan hadist menerangkan larangan ikut larut didalamnya.

Ketahuilah; untuk memanggil umatnya beribadah, Lonceng digunakan Nashrani. Terompet digunakan Yahudi. Api oleh Majusi. Dan ketiga alat itulah yang berbunyi serempak di malam tahun baru.

Belum lagi berkumpulnya pada pemuda pemudi secara bebas, kontrol didalamnya akan sulit dilakukan.

Seorang muslim yang masih waras cara berpikirnya, tentu tak mau terlibat dalam hal itu semua. Alih-alih, semestinya lebih menggaungkan bacaan Al-Qur’an, berdzikir dan berintrospeksi (muhasabah). Karena ini adalah amalan yang sangat dicintai Allah Ta’ala, dan menjadi pemberat timbangan kita di akhirat.

Oleh karena itu, kita sebenarnya patut bergembira, karena sekarang ini banyak umat Islam yang semakin tercerahkan pemikirannya, bahwa lebih baik menggalakkan Dzikir Nasional di malam itu, seperti yang dilakukan salah satunya oleh Takmir Masjid At-Tin Jakarta dan harian REPUBLIKA. Acara ini sudah diagendakan tahunan, sudah lama berlangsung.

Kalaupun orang Muslim tahu bahwa merayakan tahun baru masehi itu dilarang, biasanya ada alasan lain untuk tetap merayakannya, yaitu sekedar ikut-ikutan. Ikut-ikutan karena mungkin sungkan kepada perusahaan. Mungkin juga malu kepada teman, takut dianggap kuper. Atau dianggap kurang pengalaman. Seorang Muslim yang minder dan lupa ayat, segera tercebur larut didalamnya. Na’udzubilla min dzalik…

Hanya untuk menyebutkan beberapa, berikut beberapa hal diluar kewarasan orang yang merasa berbahagia, justru ketika seharusnya sengsara. Tolong dicatat bahwa bukan bermaksud sinis, tapi sekedar menyajikan fakta.

1. Rela bermacetan di jalanan pada dini hari, padahal itu gampang dihindari, dengan tidur nyenyak saja di rumah.

2. Karena macet, resiko menghirup asap mobil, motor dan bau keringat yang kesemuanya itu adalah racun, tapi rela dan iklas dengannya.

3. Biasa merutuk dan mengutuk orang merokok sembarangan, tapi giliran menghirup dan menghisap asap kendaraan bermotor ketawa-ketawa saja.

4. Rajin menghujat orang merokok karena gemar membakar uang, dia sendiri perlu dihujat karena gampang membakar uang lewat petasan, kembang api, dan konconya, untuk momen yang sangat singkat.

5. Tertawa terbahak ketika ribuan suara petasan memekakkan telinga beradu di udara, lupa bahwa mungkin di rumah sebelah ada kakek sedang sakit sulit tidur, bayi terbangun kaget dan tetangga sedang galau tertimpa musibah.

6. Dan banyak lagi.

Mungkin ada yang menyanggah: loh, kan hanya setahun sekali?

Berempati dan bersimpati wajib dilakukan sepanjang tahun. Dimanapun, kapanpun. Aneh kalau ada ungkapan, boleh dong sesekali tak bersimpati. Itu adalah ungkapan super egois oleh orang yang hanya memberi simpati berdasar kondisi. Artinya, empati dan simpatinya ada pamrih.

Apakah ada solusi atau tips untuk mengakhiri dan tidak terlibat lagi dalam acara tahun baruan, untuk tahun ini dan tahun-tahun berikutnya kedepan, selamanya?

Ada.

Yang pertama, tentu lebih giat lagi belajar agama. Kembali rajin ke majelis taklim, dan merapat ke ulama, gudangnya ilmu agama. Tidak sinis kepada saudara Muslim yang mengingatkan bahwa merayakan tahun baru itu tidak bermanfaat. Karena itu dalam rangka nasihat menasihati, yang sangat dianjurkan agama. Bukan bermaksud menggurui.

Yang kedua, lebih menahan diri untuk tidak terlibat di malam tahun baru. Lebih baik dirumah saja. Bukan menonton tivi acara tahun baru, karena itu sama saja. Lebih baik tidur cepat. Ba’da shalat Isya’ langsung tidur. Agar gampang segera tidur, siang harinya banyak-banyaklah bekerja dan mencapekkan diri, agar malamnya mudah tidur walaupun malam dipekakkan suara petasan.

Yang ketiga, sekarang ini banyak komunitas yang lebih memilih menghidupkan malam itu dengan kegiatan berdzikir dan beristighfar, seperti REPUBLIKA diatas. Ada baiknya kita bergabung di kumpulan majelis seperti itu. Disamping menyehatkan (tak berada dijalanan), juga tentu sarat pahala. Keutamaan membaca istighfar sungguh luar biasa, sayang untuk dilewatkan.

Yang keempat, lebih mengingat penderitaan yang sedang dialami kaum muslimin. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Iraq, Suriah, Myanmar, Palestina, dll. Dengan mengingat penderitaan mereka, semoga itu bisa mencegah kita berbuat hura-hura di malam tahun baru.

Yang kelima, dengan mengingat mati. Ini adalah sebaik-baik pengingat. Takutlah ketika kita akan mati kelak, dalam posisi membawa amal yang menyerupai amalan orang Nashrani, Yahudi dan Majusi ketika bertahun baru. Kira-kira bagaimana nasib kita nanti di alam kubur dan alam barzah? Betul. Sengsara!

Terakhir, ada baiknya, kalau mungkin tahun-tahun sebelumnya kita rela dan iklas berbelanja banyak hal keperluan tahun baru, saatnya tahun ini berubah. Berapa banyak dana yang biasanya untuk bertahun baru, mulai tahun ini sisihkan dan sedekahkan untuk Rumah Yatim Piatu. Atau cemplungkan dalam kotak Masjid. Atau, infaqkan ke organisasi umat yang terpercaya yang menangani pengungsi Suriah, misalnya.

Percayalah, insyaAllah, itu jauh lebih waras, bermakna dan bermanfaat dilakukan oleh seorang Muslim.

Mari menutup tahun ini, kita ucapkan ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIIM…Mohon Engkau ampuni hamba ya Allah, yang pernah lalai menyekutukanmu…

Arif Haliman

Facebook: https://www.facebook.com/arif.haliman

obral-baju-muslim