Rajam dikenal dalam agama Islam sebagai bentuk konsekuensi yang harus diterima dari hamba Allah SWT yang melanggar aturannya, dalam hal ini adalah berzina. Seperti diketahui, berzina adalah salah satu bentuk dosa besar. Saking besarnya, orang yang melakukan perbuatan zina, agar dosanya itu menjadi terhapus, dia harus dirajam. Bayangkan, untuk menghapus 1 kali perbuatan zina, seorang pezina harus menebus dengan nyawanya. Bagaimana kalau dijaman sekarang yang berbuat zina seolah menjadi santapan sehari-hari?

Rajam adalah hukuman dalam bentuk dilempari batu kepalanya sampai mati. Sebelum kepalanya dilempari batu sampai mati, tubuh orang itu harus ditanam didalam tanah dahulu, hingga kepalanya saja yang masih tersisa diatas tanah. Nah, kepalanya itulah yang akan dilempari batu hingga dia mati. Pelemparan batu dilakukan oleh beberapa orang, dan harus dipimpin oleh seorang imam, atau gubernur, atau presiden.

Para pelempar mengambil posisi di belakang kepala terhukum. Batu yang dipergunakan untuk melempar berukuran sedang, tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Mungkin seukuran kepalan tangan. Prosesnya termasuk cepat, kurang lebih 10 menit saja si terhukum langsung mati. Apakah memang mungkin si terhukum akan langsung mati? Dijamin, insyaAllah, pasti mati. Jangankan dilempari batu, kepala mendapat pukulan tangan saja bisa menewaskan. Atau, pernah terkena bola dibagian belakang kepala sewaktu bermain sepak bola? Bagaimana rasanya, seakan rasanya dunia sudah sedemikian gelap gulita.

Lalu, siapa yang harus mendapat hukuman rajam? Itu adalah seorang pria atau wanita yang sudah menikah (jadi berstatus suami atau istri). Sudah punya istri, tapi selingkuh, nah, dia harus dirajam. Atau, sudah punya suami, tapi masih nekat selingkuh juga, maka istri model begini juga harus dirajam (contohnya si Cut Tari harusnya sudah dirajam).

Bagaimana dengan seseorang yang belum menikah? Baik pria ataupun wanita yang masih lajang dan sudah berzina (contohnya si Ariel dan Luna Maya), hukumannya harus dicambuk 100 kali cambukan, lalu diasingkan (diusir) selama 1 tahun. Begitu hukuman yang harus mereka terima menurut hukum Islam.

Sesaat setelah si terhukum telah menjalani hukumannya, dan dia telah mati, saat itu pula status pezina yang sempat disandangnya sudah diputihkan. Tidak boleh lagi ada orang lain, dengan alasan apapun, tetap menyebut almarhum atau almarhumah sebagai seorang pezina. Bahkan menyebutnya mantan pezina juga tidak boleh. Bagaimanapun juga dia telah menjalani hukuman, dan oleh sebab itu sebutan itu mestinya juga sudah tidak berlaku lagi.

Terakhir, hukuman rajam dan cambuk ini hanya bisa diterapkan di sebuah negara yang menerapkan hukum syariat Islam. Sebuah negara yang belum menerapkan hukum syariat Islam (seperti Indonesia), tidak wajib menerapkan hukuman ini. Yang hanya bisa diharapkan dari model hukum di sebuah negara yang belum menerapkan hukum Islam adalah, meminta para pelakunya untuk betul-betul bertobat dengan bersungguh-sungghu dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan sangat tercela itu. Disamping itu juga, tentunya juga ada undang-undang produk lokal negara tersebut mengenai apa hukuman yang pantas diterima oleh para pezina.

Wassalam,

Arif Haliman

Share and Enjoy MuslimBusana.com Blog:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • LinkedIn
  • MyShare
  • MySpace
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz