Kelok-kelok kehidupan dunia, adalah sebuah keniscayaan. Kelok-kelok itu terkadang cuma sebentar, namun tak jarang lama. Terkadang landai, namun tak saban curam. Kalau itu yang terjadi, maka biasanya manusia akan berkeluh kesah.Kesusahan hidup dan cara menghadapinya berdasar AlQuran dan Hadis nabi

Allah SWT sendiri yang berkata bahwa manusia itu memang hobi berkeluh kesah.

“Apabila ia ditimpa kesusahan maka ia berkeluh kesah” (QS Al Maarij 20).

Terkadang pun bahkan, kelok-keloknya dirasa sungguh terlalu lama dan curam, yang bisa membuat manusia menjadi mual dan muntah.

Dalam kehidupan nyata, mual dan muntah itu diwujudkan dalam bentuk sikap menyerah dan putus asa.

Padahal Allah SWT melarang keras manusia untuk berputus asa.

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Az-Zumar 53).

Ingatlah, kesusahan hidup yang mungkin sedang mendera kita, disebabkan oleh ulah kita sendiri. Ulah kita sendiri yang kerapkali jarang bersyukur terhadap nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Misalnya, sering istri kita sudah memasak hidangan sayur beserta lauk tahu dan tempe hampir tiap hari, namun kita nyeletuk, kok tidak ada daging ayam atau sapi? Ingatlah, begitu kita melontarkan kalimat seperti itu, kita sudah jatuh dalam kondisi tidak bersyukur.

Tidakkah dia lupa bahwa ada banyak saudaranya yang sedang tertimpa banjir dan tanah longsor, sehingga sekedar makan saja harus menunggu kiriman dari pemerintah? Tidaklah dia tahu bahwa banyak orang meminta-minta di jalanan, sehingga untuk makan saja perlu mengemis dulu?

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”” (QS Ibrahim 7).

Kita seringnya lebih menuntut hak, daripada menjalankan kewajiban. Menuntut hak kepada Allah SWT agar diberi kehidupan yang enak dan menyenangkan, namun lupa kewajiban dalam menjalankan ibadah, beramal saleh dan berbuat kebaikan. Minta enaknya saja.

Mengeluh kepada takdir Allah SWT atas sakit yang berkepanjangan, tapi lekas tangkas berbuat maksiat lagi setelah sembuh. Protes kepada Allah SWT mengapa harus menanggung biaya berobat yang tinggi, tapi lupa bersyukur bahwa udara disekitarnya ini gratis.

Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan, ketika ketika kesusahan ini masih saja mendera, dan sepertinya belum terlihat tanda-tanda mereda?

1. BERTOBAT

Ini adalah yang UTAMA dan PERTAMA.

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah 128).

Taubatan nasuha, artinya tobat yang sesungguhnya. Berjanji dengan keras akan selalu berusaha menjadi orang yang bertakwa. Tahu kan arti Takwa? Yaitu, MENJALANKAN seluruh perintahNya dan MENJAUHI segala laranganNya.

2. QONAAH

Adalah merasa cukup atas apa yang telah diberikan Allah SWT. Simak hadistnya:

Dari Abdillah bin Ummar berkata, Rasulullah S.A.W. bersabda, “Sungguh beruntung orang-orang yang masuk Islam, mendapatkan rezeki secukupnya, dan ia merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.“ (H.R Muslim ).

Rezeki disini luas artinya. Bisa rezeki ekonomi, kesehatan, ilmu pengetahuan, tetangga atau teman yang baik, dsb.

3. BERSABAR

Berikutnya adalah bersabar. Tapi, selain bersabar, ternyata ada juga yang mengiringnya; simak ayatnya:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan shalat) sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah 153).

Selain bersabar, mendirikan shalat adalah cara lain untuk meminta pertolongan Allah, agar menyudahi kesusahan hidup kita.

Sudahkah kita bersabar? Lalu, sudahkah kita shalat? Shalat yang sungguh-sungguh shalat, yaitu shalat (bagi laki-laki) yang dikerjakan tepat waktu dan berjama’ah di masjid. Bukan shalat yang didirikan secara asal-asalan; diakhir waktu dan sendirian. Itu hanya akan membuat pertolongan Allah SWT jauh dari harapan kita.

Baca Juga Hidayah Mencintai Masjid.

4. BERBENAH

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr 18).

Jihad fisabillah! Bersungguh-sungguh berupaya terhadap hal atau pekerjaan yang sedang dilakoninya.

Dengan kata lain; Fokus dan Antusias!

Dan tiada Allah SWT akan memberi keberhasilan kepada seorang hamba, melainkan hamba tersebut bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya.

Arif Haliman

Facebook: https://www.facebook.com/arif.haliman

obral-baju-muslim