Lagi trending tentang penghentian ceramah Ustadz Khalid Basalamah (UKB) di Sidoarjo, Jawa Timur oleh Banser NU (moga-moga oknum saja, bukan keseluruhan Banser), mungkin sedikit pemikiran dibawah ini bisa membantu meredakan ketegangan di kedua belah pihak.

Masalahnya adalah, singkatnya menurut pihak Banser, ustadz Khalid ini dianggap meresahkan karena sering menyerang amalan warga Nahdliyin; tahlilan, yasinan, dan seputarannya. Juga mengenai hal kata ‘sayyidina’, sampai pendapat bahwa orang tua Nabi tidak masuk surga, karena belum menerima Islam.

Rasa-rasanya, hal khilafiyah (perbedaan pendapat) seperti gini akan tetap terjadi, bahkan sampai kiamat tinggal 1 hari. Besok kiamat, misalnya, maka hari ini khilafiyah akan tetap ada, tak peduli kita suka atau tidak, mau atau tidak, percaya atau tidak.

Jadi sebaiknya begini aja: selama tuhanmu masih satu, nabimu juga satu, rujukanmu Qur’an dan Hadist, aqidahmu masih lurus, ya kamu adalah saudaraku…

Nah, berangkat dari pemahaman ini, seharusnya pihak Banser tak perlu sampai menghentikan ceramah seseorang yang berbeda pemahaman. Itu kebablasan. Logika awamnya, Banser selama ini bisa bekerja baik dengan pihak lain yang berbeda agama (gereja dijaga, non-muslim disuruh ceramah di dalam masjid) dan bisa luar biasa baik, lha kok dengan yang saudara seiman malah luar biasa marah.

Dan lagipula, kalau ceramah UKB dihentikan, mustinya ceramah ustadz-ustadz lain yang juga punya pendapat berbeda, harus dihentikan juga. Tak hanya di Sidoarjo, kalau bisa di seluruh Indonesia. Mengapa?

Karena banyak sekali ustadz yang berbeda pendapat dengan oknum Banser NU dalam dakwahnya, dari dulu sampai sekarang.

Denpasar, seperti kota besar lainnya, kerapkali didatangi Ustadz Khalid Basalamah untuk berceramah di Denpasar sini. Dan penulis lumayan sering menghadiri kajian mereka di berbagai masjid yang ada di kota Denpasar. Dalam sehari, mereka bisa 1 – 3 kali berceramah di masjid berbeda. Dan mereka di Denpasar ini bisa berhari-hari.

MENGAPA USTADZ KHALID BASALAMAH SANGAT POPULER

Ciri dari ustadz-ustadz ini adalah mereka terbilang masih muda. Tapi jangan salah, biarpun muda, keilmuan mereka tak kalah dengan para ustadz senior. Jam terbang mereka pun umumnya sudah tinggi. Malah umumnya mereka lulusan Madinah, Mekah atau Mesir. Selain muda, mereka sangat melek teknologi. Juga sangat bersemangat. Maka tak heran kalau mereka bisa bisa bersafari dakwah beberapa kali dalam sehari di satu kota tertentu.

Baca Juga: Pengajian Wasekjen MUI Pusat di Denpasar Bali

Dalam sesi dakwahnya, mereka membawa ‘pasukan’ komplit; juru foto, juru video, dan juru dokumentasi lainnya. Tak ketinggalan sound sytem dan lighting. Tak sedikit yg membawana mik sendiri. Dengan anjuran di setiap ceramahnya agar jama’ah duduk rapi mendekat ke pembicara, agar tak duduk jauh dan banyak area kosong. Penulis kadang membatin, apa mereka juga membawa juru rias ya…hehe…

Jadi memang sang ustadz di shooting secara profesional. Maka tak heran dalam dakwah dunia online, seperti Youtube dan medsos lainnya, UKB dan model ustadz sejenis, bisa dibilang adalah rajanya.

Polanya adalah jemput bola (jama’ah), lalu rekam ceramahnya, dan sebarkan di internet.

Dan model dakwah mutakhir seperti inilah yang sedang ngetren, terutama di kota besar. Mereka jemput bola dengan langsung mendatangi jama’ah dengan terbang bersafari dari satu kota ke kota lain, dari satu provinsi ke provinsi lain, dan dari satu pulau ke pulau lain. Tak jarang juga berkeliling dunia, seperti ustadz Salim A Fillah, ustadz Felix Siauw dan banyak ustadz generasi internet lainnya.

Anda yang tinggal di kota besar, dan semangat belajar agama sampean tinggi, tentu akan rugi kalau tak mendatangi pengajian mereka. Minimal memuliakan saudara yang datang dari jauh untuk berdakwah.

Penulis secara pribadi sudah lama meninggalkan khilafiah. Menjadi minoritas di tanah rantau meyakinkan diri ini bahwa tak ada gunanya terus membahas hal beda pendapat. Bagi penulis ilmu dan sumber hidayah bisa datang dari mana saja, siapa saja, dan kapan saja.

Nah, motode dakwah yang seperti ini butuh kerja keras dan komitmen. Butuh semangat dan tim yang solid.

Butuh orang-orang bersemangat muda untuk melakoninya. Sebab seringkali lama meninggalkan keluarga. Kalau tanpa niat lillahi ta’ala, bisa macet dan mandeg itu dakwah di tengah jalan.

Dan bisa Anda amati di internet, ustadz (muda) dari kalangan NU mana yang moncer? Hampir tak ada. Kalaupun ada, tenggelam oleh gemuruh UKB dan bolo-bolonya.

Ini yang mungkin belum disadari oleh Banser NU kemarin, dan mungkin juga organisasi keagamaan besar dan mapan lainnya di Indonesia. Mereka masih menggunakan model dakwah tradisional. Tak ada pembaruan dalam metode atau media penyampaiannya. Masih berdiri di menara gading, bernostalgia dengan model dakwah jaman dulu.

Padahal jaman sudah berubah. Jama’ahnya pun juga pasti ikutan berubah. Tak bisa jaman sekarang ini hanya sekedar diundang pakai kertas undangan seadanya, baliho hampir roboh di perempatan jalan atau informasi dari teman ketika bertemu di pasar.

UKB dan yang seangkatannya, menyebar undangan terutama lewat medsos, grup whatsapps, dsb, dengan disain undangan grafis yang ciamik dan menarik. Sehingga berkesan modern dan kredibel. Undangan mudah dan cepat di share. Terlepas dari isi ceramahnya yang oleh sebagian kalangan (Banser NU yg di Sidoarjo kemarin) dianggap memecah belah, adu domba dan membahayakan NKRI, metode dakwah seperti ini jelas lebih menarik kaum muda perkotaan.

Tapi saya juga curiga, jangan-jangan mereka belum pernah sekalipun menghadiri ceramahnya UKB, jadinya muncul praduga akut dan aksi sepihak kemarin.

Padahal isi ceramahnya umumnya masyaAllah bagus, jelas dan berdasar kitab dan sunnah. Kalaupun kemudian ada beberapa yang beda pendapat, ya wajarlah, mana ada yang semuanya sama? Asal bukan yang pokok, tak masalah..

CARA ELEGAN BANSER NU DALAM MENGKONTER USTADZ KHALID BASALAMAH

Nah, sebetulnya, kalau Banser ingin mengkonter ceramah UKB, ada cara elegan yang seharusnya di ambil pihak Banser, alih-alih menggeruduk masjid tempat berlangsungnya UKB berceramah.

Kalau sulit menyaingi UKB secara online (karena NU citranya memang tradisional), maka gunakan sumber daya NU yang sudah luar biasa itu. Apa? Jangkauan sampai ke pelosok desa.

Anda tahu, NU itu persis BRI dan Kantor Pos. Di setiap dusun terpencil mana tak ada BRI dan Pos? Pasti ada. Jangan tanya lagi di perkotaan. Nah, seperti itu pulalah NU. Kekuatan mereka ada di sana; jangkauan yang menggurita sampai pelosok.

Maka kenapa tak memfokuskan diri menggarap umat pedesaan? Terutama bagi anggota Banser yang muda-muda dan kuat fisiknya, tentunya tak masalah. Mereka bisa blusukan tanpa lelah. Apalagi saya yakin mereka juga kuat ilmu agamanya.

Ingatlah, problem keagamaan tak hanya ada di kota, tapi juga di desa. Problem desa tak kalah akutnya dengan kota. Walaupun ndeso, jangan dikira warganya sudah bener semua. Salah. Satu sedikit contoh ‘kecil’ dari buanyak masalah; berapa banyak wanita di desa kita yang sudah berhijab?

Lalu yang sudah berhijab itu, berapa banyak yang hijabnya masih asal-asalan dan rambutnya masih nampak?

Padahal berhijab itu hukumnya wajib. Nah yang wajib saja masih banyak yang salah, apalagi yang sunnah?

Contoh lain adalah rentenir. Atau tengkulak, yang sangat beken di pedesaan, dan sudah pasti menyerempet Riba, hal yang sangat dibenci Allah SWT. Aktivitas pinjam meminjam uang yang mencekik leher. Sebenarnya di kota juga marak aktivitas pinjam meminjam uang, namun minimal masih ada regulasinya lewat undang-undang perbankan yang diawasi pemerintah. Lha kalau di desa sama sekali tanpa ada pengawasan dan catatan. Sehingga pihak tengkulak sangat semena-mena dalam memberlakukan ketentuan pinjam meminjamnya.

Banyak sekali problem keagamaan di desa yang bisa digarap untuk diselesaikan.

Nah, alih-alih menghentikan ceramah orang di perkotaan, biarkanlah ustadz kota itu fokus menyelesaikan masalah keagamaan orang di kota. Dengan masih diberikan fasilitas saja dakwah mereka masih banyak menemui kendala, apalagi kalau sampai dihentikan??

UKB cs tak bakalan bisa sampai ke pelosok desa. Yakin itu. Maka biarkan mereka fokus di kota. Dan sekali lagi, kalau ingin mengkonter, lakukanlah lewat pedesaan tempat dimana marwah NU sesungguhnya berada.

Dan Andalah para Banser muda, yang bisa mengemban dakwah itu sampai ke pelosok desa, membina semua umat di sana.

Allahu a’lam.

Arif Haliman

Facebook: https://www.facebook.com/arif.haliman

obral-baju-muslim